Lewati navigasi

Arsip Tag: Orang Tua

Tema ta’aruf dari kultwit ustadz @felixsiauw

1. wahai pemuda, siapa di antara kalian yang telah mampu untuk menikah maka hendaknya ia menikah (HR Bukhari) | begitu pesan Nabi saw

2. siapakah yg dianggap siap menikah? | adl yg telah baligh, pahami Islam, dan dewasa, dia mampu selesaikan masalah, tanggung jawab

3. nikah adalah ikatan agung nan suci | dari sanalah terbangun bahtera dakwah berpsangan, dan madrasah balatentara Allah selanjutnya

4. karenanya, hal baik seperti nikah haruslah dimulai dengan yg baik | buruk awalnya biasanya buruk tengah dan akhirnya

5. Islam menolak maksiat dalam interaksi lelaki-wanita semacam tunangan dan pacaran | Nbai tak mengenalnya samasekali, bahkan melarangnya

6. namun Islam tukarkan metode maksiat dengan metode taat sebelum menikah | khitbah lalu #ta‘aruf yg halal agar nikah menjadi baik

7. pada asasnya, khitbah-#ta‘aruf adl proses yg dijalani oleh org yg telah mantap hati dan siap nikah | utk pastikan diri dan calonnya

8. jadi khitbah-#ta‘aruf bukanlah produk substitusi pacaran, bukanlah pembungkus maksiat pacaran atas nama yg lebih Islami

9. jadi sebelum melakukan proses khitbah-ta’aruf, pastikan semua urusan telah diselesaikan, orangtua pahami niat dan restui niat itu

10. sebelum melakukan proses khitbah-ta’aruf, rencana jg sudah dibuat, kapan ajuan waktu nikah, prosesi nikah, dan segala kaitannya

11. nah, bila semua sudah usai dipastikan, maka saatnya memilih pasangan, memilahnya dari ribuan untuk satu kebahagiaan | ridha Allah

12. “wanita dinikahi karena 4, harta, keturunan, kecantikan, dan agama, pilihlah yg beragama maka engkau bahagia” (HR Bukhari-Muslim)

13. jelaslah usul Nabi, bagi yg tujuan pernikahannya adl ridha Allah dan membangun keluarga sakinah | pilihan utama pada agamanya

14. tak habis pikir, Muslim yg ada niatan menyunting istri dari non-Muslim, apa tujuannya? dakwah blm tentu sampai, mafsadat sudah jelas

15. lebih tak habis pikir, wanita Muslim yg kagum atau melihat lelaki non-Muslim menarik? jelas yg jadi standarnya bukan ridha Allah

16. maka saat persiapan pribadi jelas | pilahlah calon yg memenuhi standar agama kita, bila cantik, kaya dan bangsawan, itu bonus

17. paling mudah jadi aktivis dakwah :D , akhlak-pikir calon terikat syariat, “sudah dibina tinggal dibini”, tak perlu “dibini lalu dibina”

18. bagi yg blm jadi aktivis dakwah, carilah pasangan yg “mau dibina”, yg mau tunduk pada ayat Allah dan lisan Nabi, itu baik sekali

19. perlu pula saya sampaikan, bila karena fisik wanita dipilih bersiaplah menyesal setelah menikah | sekali lagi, pilih agamanya

20. saat pilihan sudah tetap, maka khitbah dilaksanakan | ia adl pinta persetujuan kpd calon yg diinginkan, utk menjadi pasangan hidupnya

21. bila izin sang wanita telah terucap, khitbah blm selesai | ada ridha walinya yg tetap menjadi syarat bagi yang melamar wanita

22. disini perlu interaksi pria utk datangi wali perempuan, sampaikan maksud dan niatan | sampaikan perencanaan yg telah disiapkan

23. tentu, perlu pula bagi wanita utk yakinkan kedua orangtuanya sebelumnya, pastikan tidak ada masalah setelah ada pelamar bertamu

24. bila niatan tak disambut walinya, berlega dirilah tak perlu datangi dukun atau melamun | naik pohon kelapa, liat, akhwat tak cuma satu

25. segera tarik diri dan selesaikan urusan dengan akhwat yg tak disetujui walinya, bawa proposal pada akhwat yg siap, insyaAllah banyak

26. maka perlu kiranya, sejak awal saat akhwat telah merasa siap nikah, orangtua dikondisikan, agar tak menyulitkan pelamar kelak

27. bila niatan disambut baik wali akhwat, alhamdulillah, khitbah telah terlaksana, akad nikah terbuka depan mata, lanjutkan ke ta’aruf

28. beda ta’aruf dengan pacaran adl, bahwa ta’aruf memiliki batas waktu yg jelas dan tetap yaitu akad nikah, dan interaksi non-khalwat

29. mengenai batas waktu ta’aruf, tidak ada ketentuan, bisa esok hari atau tahun depan | lebih cepat lebih baik, serius itu cepat

30. perlu ditambahkan bagi ikhwan-akhwat | semakin panjang waktu ta’aruf, semakin besar potensi maksiat, selubungi pacaran atas nama ta’aruf

31. interaksi saat ta’aruf jg harus ditemani mahram, lelaki boleh menanyakan perkara yg menguatkannya untuk menikah, apapun itu

32. perkara yg sensitif bisa diketahui dari orangtua, shahabatnya, saudaranya, atau musyrifahnya (ustadzahnya)

33. Rasul jg membolehkan melihat wanita hingga memiliki kecenderungan padanya, melihat disini terbatas memandang fisik dirinya, tidak lebih

34. memandang akhwat yg akan dinikahi juga tak perlu buka jilbab dan kerudung, perkara semisal itu bisa ditanyakan pada mahramnya

35. bagaimana interaksi via phone dan sms? | boleh selama ada keperluan | “sudah makan belum”, “sudah tahajud belum” bukan masuk keperluan

36. hati-hati mengotori proses ta’aruf, karena khalwat bisa terjadi bahkan di telp atau di sms, interaksi yg membuai dan sebagainya

37. jadi interaksi via telp dan sms, dilakukan dalam rangka siapkan pernikahan, bukan mengumbar rasa yang seharusnya setelah nikah

38. ingat, ta’aruf itu tak hanya pada wanitanya, tapi juga keluarganya | boleh juga libatkan 2 keluarga silaukhuwah utk rencana nikah

39. selama ta’aruf pikirkan selalu, “apakah dia cocok menjadi ibu dari anak-anak kelak?” | “apakah ia bisa mengimami dan melindungi?”

40. bagaimana setelah ta’aruf lantas tidak merasa ada kecocokan? | sampaikan saja, dan segerakan untuk selesaikan urusan, itu lumrah

41. lelaki berhak memilih wanita, dan wanita berhak untuk menolak | jangan rasa segan, karena tak ada korban dalam urusan ini

42. lalu bila telah pas di hati, lanjutkan ke jenjang pernikahan, setelah akad terucap | apapun halal bagimu dan baginya, segala urusan :D

43. perlu saya ingatkan sekali lagi, bagi lelaki | lakukan khitbah-nikah saat sudah siap, bukan menyiapkan diri setelah khitbah-ta’aruf

44. bagi wanita, silahkan pantau yg melamar anda | bila kesiapan belum ada, lebih baik diminta bersiap daripada masalah penuh di belakang

45. apakah kesiapan berarti miliki kerja? | “nafkah bukan syarat nikah, tapi kewajiban setelah nikah” | namun, bagi calon mertua itu penting

46. apakah wanita boleh inisiatif mulai proses khitbah-ta’aruf? | “boleh, laksana Khadijah binti Khuwailid kepada Muhammad bin Abdullah”

47. apakah khitbah perlu perantara ustadz/ustadzah? | “tak harus, boleh sendiri bila mampu dan mau”

48. apakah khitbah boleh lewat sms atau media lain? | “boleh, selama yg dikhitbah bisa pastikan bahwa itu real, merpati pos pun jadi”

49. akhir kalam, khitbah-ta’aruf-nikah bukan coba-coba, bukan pula permainan, niatan hanya Allah yg tahu | semoga dimudahkan menikah :)

=-==-=-=-=-=-

sy prestatif dong, sy&istri nikah sama2 22thn, sy malah blm lulus :D >> “@anggunzaitun saat nikah, felixsiauw dan istri usia? <—- ini #kode tantangan tauuuu!!! :P

Ada yang siap?

 

#kepadaA, janji ya? ^_^

And you too, Dad!

Entah mengapa akhir-akhir ini aku sering merasakan bahwa Mama dan Bapak ada di rumahku. Dekat sekali denganku. Rasanya aku ingin memeluk mereka. Jelaslah tak mungkin… :(

Ketika dengan gemetar aku berbisik lirih pada Allah, ada kehangatan yang menyelimuti. Hangat yang biasa kurasa saat kecil dulu. Damai. Tenang. Sesekali aku merasa Mama seperti sedang menangis. Kemudian aku merasa Mama tersenyum dan mengangguk. Entah apa maksudnya.

Bapak… Yang pernah kusakiti hatinya… Hingga saat ini rasa bersalah dan menyesal itu tak jua bisa hilang.  Setiap ingat Bapak, rasanya nyesek. Sakit banget. Wajah Bapak yang pias, mulutnya yang bergetar saat bicara, dan matanya yang memerah menahan tangis itu masih melekat erat dalam ingatanku. Durhakanya aku… Memohon pada Allah agar Bapak mau mengampuniku seolah terlihat mustahil. Hingga suatu saat yang entah kapan, aku memimpikan Bapak tersenyum padaku. Kaget. Sungguh aku tak percaya.

Saat aku menulis ini, aku merasa bahwa Mama dan Bapak ada di dekatku. Maka ingatanku kembali pada saat kecilku yang manja. Ah, rindunya aku menikmati saat-saat ‘bertaruh’ ketika Persib bertanding melawan Persebaya di tahun 90an, makan siang di luar sambil berdebat tentang nilai ulangan yang anjlok (halah), dan menemani Mama di rumah sakit sambil menggosipkan dokter ganteng (haiyah). :)

Saat ini, yang kurasa adalah restu mereka akhirnya kudapat. Tentang apa? Segalanya. Semua yang kubutuhkan. Perlahan, aku merasa pintu ridho itu terbuka. Setelah sembilan tahun aku memohon doa yang sama setiap hari… Aku menyadari sulitnya memohon ampunan orangtua yang telah aku durhakai semasa hidupnya. Allah telah menghukumku dan aku sudah terbebas dari hukuman duniawi itu. Tak henti aku bersyukur. Tak ada lagi yang bisa kuamini selain janji tak akan mengulangi kesalahan yang sama. (Untuk hal ini, para sahabatku pasti mengerti tentang apakah ini :) )

Seandainya saja mereka masih ada di sampingku, Yaa Allah… Betapa aku ingin sekali mencium tangan dan kening mereka sepenuh cinta seperti dulu…

Setelah orang tua meninggal dunia banyak amalan yang bisa kita lakukan untuk berbakti kepada keduanya, di antara lain:

1. Mendoakannya

Mendoakan agar mereka diampuni, dirahmati, diberi kemuliaan disisi-Nya, dan dilapangkan di alam kubur.

2. Menunaikan janjinya

Apabila kita pernah mendengar orang tua mempunyai janji atau niat untuk melakukan suatu kebajikan, namun belum terlaksana karena maut menjemputnya, kita sebagai anaknya dianjurkan untuk merealisasikan niat baiknya itu. Misalnya, mereka pernah berniat mendirikan panti asuhan, sebelum niat baik ini terwujud, Allah swt. memanggilnya, sebagai wujud bakti anak terhadap orang tua adalah merealisasikan niat baiknya tersebut.

3. Menjalin silaturrahim

Sebagai makhluk sosial orang tua kita pasti memiliki sejumlah kerabat, wujud bakti kepada mereka adalah dengan menyambung silaturrahim dengan orang-orang yang biasa bersilaturrahim dengannya, terutama silaturrahim dengan kerabat dekat orang tua.

Sumber quote: di sini

Hati ini terasa ringan sekarang. Terimakasih yaa Allah… Meski sekarang agak kesulitan untuk menjalin silaturrahim dengan kerabat orangtua (rata-rata ya sudah wafat juga), tetapi dengan yang masih hidup insya Allah terjaga…

Aku cinta kalian, Ma, Pak!

Berikut adalah tulisan Mamaku yang kutemukan secara acak di kertas-kertas yang berserakan saat bebenah. Kertas yang telah menguning…

1. Masa kanak-kanak memang masa penuh tawa ria, tetapi setiap masa apa pun di sepanjang sejarah kehidupan kita ini juga memiliki keindahannya sendiri-sendiri, asal kita dapat mengisinya dengan sesuatu yang bermakna, memiliki nilai.

2. Bahwa kadang-kadang ada kesulitan atau kesusahan, itu bukan berarti sebagai neraka. Di setiap sisi yang terburuk pun, masih ada sesuatu yang baik dilihat apabila kita mau mencarinya dan apabila mata kita tidak jadi gelap karenanya. Ingatlah yang mengukir sejarah kehidupan kita ini bukan orang lain, tetapi diri kita sendiri.

3. Aku adalah manusia, bukan objek. Perempuan adalah manusia utuh seperti laki-laki. Bukan setengah utuh atau setengah laki-laki.

4. Perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki–laki. Dari sisinya, dekat dengan lengannya untuk dilindungi dan dekat dengan hatinya untuk dicintai.

~~~~====~~~~

Aku, sedang menuju ke arah sana. Berusaha tidak manja.

Tergelitik menulis tema ini karena membaca postingan Bundanya Cinta di sini. Jadi teringat pesan almarhumah Mama, hampir 15 tahun lalu.

“Kamu harus memiliki penghasilan sendiri, Teh. Kita tuh perempuan. Kita gak pernah tau yang terjadi di masa depan. Kita harus siap dengan yang terburuk. Misal aja, kalo Bapak meninggal trus Mama gak punya uang sendiri, gimana? Sekolah Teteh dan Adie gimana? Makan sehari-hari gimana?”

“Bapak kan wartawan yang gak ada pensiunnya, jadi Mama harus back up untuk masa depan kalian. Ini yang Mama bisa. Jadi karyawan biasa. Tapi nanti kalau pas masa pensiun, gak terlalu pusing. Dari uang pensiun, bisa deh dagang kecil-kecilan.”

ya gak gini juga kali... multitasking tuh bahaya ;)

“Intinya, jadi perempuan harus mandiri. Gak tergantung suami. Jangan nyusahin suami. Minta ijin ke suami dan bilang apa alasannya kita harus ada penghasilan sendiri. Kalau suami gak mengijinkan, berarti dia siap menjamin kehidupan keluarga dan pendidikan anak-anak sampai jenjang tertinggi. Ya, minimal SMA.”

Jadi ingat, kelas 1 SD dulu aku sudah jualan di… kelas! :D aku pakai uang jajanku  untuk modal dan beli mainan, stiker, alat tulis, dan apa pun deh yang menarik lalu jual ke teman-teman. Lumayan lho. Hanya saja, saking semangatnya, pernah ketahuan guru dan semua daganganku disita. Beliau ngomel-ngomel karena aku dianggap tidak memperhatikan. Nyatanya, nilai ulangan harianku selalu di atas 8 kok. Tapi ya aku jadi agak dongkol saat itu dan semangat dagangku kendor seketika.

Kemudian saat SMA, aku membantu tante dan sepupuku yang membuat kue basah. Kujual di… Kelas lagi! :P :D Laku banget dan tentu saja ada yang menjadi Si Sirik. Hehehehe… Ibu Kantin marah-marah dan menuduhku mengambil pelanggannya. Ih, situ aja kali kurang kreatif :D

Lulus kuliah aku juga langsung bekerja. Pokoknya cari kesibukan yang menghasilkan. Aku pun akhirnya memikirkan apa yang Mama katakan itu. Ketimpangan rumah tangga akan terjadi ketika sumber penghasilan utama tak lagi mencukupi atau lebih parah: terhenti. Ini bukan semata masalah emansipasi. Tetapi penyelamatan ekonomi keluarga. Apalagi bila sudah memiliki anak. Amanahnya lebih berat. Pertanggungjawabannya langsung pada Allah.

Sampai sekarang pun aku masih belum menemukan sosok super mom yang ideal. Tetapi, kisah Siti Fathimah, ananda Rasulullah, mungkin bisa dijadikan teladan. Bagaimana seorang Siti Fathimah menjadi istri dan ibu yang bekerja ekstra kuat hingga keletihan tersurat di wajahnya. Hal ini pun membuat gundah Sayyidina Ali yang sempat meminta khadimat pada Bapak Mertuanya. Apa jawaban Rasulullah? Ali dan Fathimah diminta berdzikir. Itu saja.

Melayani suami, mengurus dan mendidik anak, dan membereskan rumah beserta segala keribetannya sudah cukup membuat juling. Belum lagi kalau bekerja full time di kantor. Yakin bisa dikerjakan semuanya sendirian? Tanpa khadimat? Salut dan jempol deh buat semua perempuan yang bisa demikian. Catatan ya: sanggup demikian ketika anak-anak berusia balita yang sangat membutuhkan perhatian total ibunya.

Lain cerita kalau anak-anak sudah bisa mandiri. Minimal usia SD. Beban pikiran Ibu tentu berkurang sedikit. Ada yang bisa dimintakan bantuan untuk sekedar merapikan tempat tidurnya sendiri, mandi dan makan sendiri. Betul?

Apa pun dan bagaimana pun caranya seorang perempuan mendapatkan penghasilan, terserah. Be creative! Sekarang banyak pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah sambil online. Menjaga anak, mengurus rumah, dan berpenghasilan dapat dilakukan berbarengan.

Jujur, aku sih belum sanggup melakukan multitasking seperti itu. Pasti ada yang dikorbankan. Dan aku memilih membiarkan rumah kayak kapal pecah :D Maklum tak ada asisten rumah tangga. Dalam kondisiku, yang penting anak-anak tetap prioritas utama dan terus berpikir bagaimana caranya tetap berpenghasilan demi mereka :)

Aku iri pada perempuan-perempuan tangguh di luar sana. Tanpa pembantu, tetap bekerja, rumah selalu rapi, dan keluarga tak telantar. Keren deh! Tapi ada gak ya? Setahuku sih yang rumahnya rapi rata-rata karena ada pembantu. Eh maaf ya kalau salah? :)

Sebagai perempuan, jangan pernah sepenuhnya tergantung pada penghasilan suami KECUALI sang pemimpin rumah tangga itu SANGGUP memenuhi kebutuhan primer 100% dan sekunder hingga 70%. Lupakan tersier jika untuk primer saja harus berjuang ekstra keras. Sorry, ini hanya pendapat pribadi dan belum tentu cocok di setiap kondisi rumah tangga. :)

Hidup ini sudah sulit, janganlah dibuat lebih sulit. Nikmati saja ^_^

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.