Lewati navigasi

Arsip Tag: My Opinion

Jadi ingat twit Indra B7RU sekilas tentang quality time bersama pasangan. :) Di jaman serba digital dan tuntutan peran di segala aspek kehidupan ini, semakin terasa kebutuhan waktu yang berharga bagi diri sendiri dan keluarga.

Aku merasakan hal itu. Betapa aku nyaris kehilangan waktu berhargaku bersama anak-anak jika aku kerja kantoran. Maaf, bukan menghakimi wanita karier, tapi aku bukanlah tipe super woman yang dapat mengerjakan semuanya dengan sempurna. Umar sering kali protes karena pekerjaanku yang menyita waktunya dan waktu Salman. :(

Juga yang kurasakan bersama pasangan. (ahahahaha, alinea yang bikin kepo daaaaahhh :lol: ) Bagaimana kami menyesuaikan diri dengan kesibukan yang tak bisa kami tolak. Euh, sebenarnya sih jam kerja dia yang sangat ketat dengan beban kerja yang tinggi. Ditambah… Kami belum bisa mencoret kata  LDR dari kamus. Tapi bagaimana caranya mendapatkan waktu berkualitas bila berjauhan seperti itu?

Ini jaman twitter kali ya, bukan jaman telegram lagi. :D Ada sms, fesbuk, twitter, skype, YM, BBM, dan lainnya.  Kami menyiasatinya dengan menggunakan teknologi itu sebisa mungkin. Oh well, LDR emang berat di pulsa yeeeee… *teteup*

Jadi, apakah HARUS pertemuan fisik yang diandalkan untuk sebuah waktu berkualitas? Hm, idealnya memang seperti itu. Tetapi bila tidak memungkinkan ya sebaiknya terima keadaan atau kitanya stress sendiri :)

Pertemuan ‘hanya’ 30 menit dengan perjuangan untuk mendapatkannya selama 10 hari… Sedih atau senang? Galau sih yang ada *sigh* Tapi tetap bersyukur lho! Itu kudu. Jadilah manusia yang pandai bersyukur. *mulai deh*

Aku menekankan, hubungan berkualitas itu intinya adalah komunikasi. Setelah itu baru kepercayaan, kebersamaan secara fisik, dan lainnya. Ini yang kami jaga. Komunikasi gak boleh terlewat. Gak bisa telepon ya sms. Atau bisa juga via YM dan inbox FB. Jika tak ada kabar lebih dari 6 jam, rasanya ada yang aneh. Kalau bukan tentang pekerjaan, pastilah sedang (ke)tidur(an).

Siapa saja yang sempat menghubungi terlebih dahulu, lakukan. Gak perlu tunggu-tungguan. Karena kondisiku lebih banyak luangnya, akulah yang senantiasa memberi kabar. Lewat twitter (yang kadang diprotes sama dia: “ngomong aja langsung, jangan nulis di twitter” :P ), inbox, atau sms. Aku lebih bisa menuliskannya. Lain dengan dia yang lebih sering secara verbal. Sehari menelepon bisa lebih dari 10 kali. Tetapi kadang sehari paling banyak dua kali jika beban kerja sedang padat dan berat.

Lantas apa isi pembicaraannya? Banyak. Malah kadang kami tak saling bicara dan hanya mendengar tarikan nafas yang ada di ujung telepon sebelah sana. :) Itu bentuk komunikasi kami.  Aneh? Ya gak masalah. :) Setiap pasangan memiliki gaya komunikasinya sendiri ;)

Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih yang sangat kepada Allah. Karena cinta-Nya yang indah, ada kejutan cantik yang kuterima di saat aku berpikir tak akan ada keajaiban itu. Pikiranku saja. Tetapi hatiku menyangkal dan bersikeras mengatakan yang sebaliknya. Ada keajaiban dan voila! Aku hanya bisa terharu ketika kejutan itu kuterima dengan indah ;)

Jadi, nikmati sajalah ;)

*manggut-manggut sambil menahan nyeri punggung*

Pindahan dari Depok ke Bandung (nyaris) mengerjakan semuanya sendirian. Sakit kepala? Pasti. Sakit badan? Jangan ditanya. Tapi sedikit lega karena satu masalah sudah terurai.

Benar terasa olehku bahwa janji Allah itu sangat tepat waktu :) Ketika aku mengurai satu per satu di atas kertas… Aku tertawa kecil. Tak ada yang kebetulan. Tak ada yang meleset, tak ada yang dikecewakan, tak ada yang salah. Semuanya pas. Waktu penjualan rumah Depok, harga yang disepakati, siapa pembelinya… Begitu pula dengan rumah Bandung. Rumah yang aku survey sambil menyanyikan lagu “11 Januari” dari GIGI #uhuks ;) Harga yang sesuai, lokasi yang pas, tetangga yang menyenangkan (semoga demikian adanya), dan krucilku langsung dapat teman… Ah, indahnya :)

Juga ketepatan waktu untuk move on dalam segala hal… Ini di luar dugaanku. Sungguh. Sangat tepat. Kaget dengan perubahan suasana hari secepat ini. Ketika aku meminta, Allah memberi. Adakah yang harus kusesali dan kutampik?

Oh ya, mengenai kegiatan moving hari ini tuh dimulai dengan kerusuhan seharian kemarin packing barang-barang pibadi.  Sambil berharap dan ngayal dibantuin sama patjar (ah elah!), aku asal memasukkan segalanya ke dalam koper. Pusing duluan.

Kemudian hari ini, pukul 8.30 pagi tim dari Mandiri Moverindo sudah datang. Keren, dengan jumlah personil 7 orang, mereka dengan sigap langsung membereskan semua barangku tanpa sempat memberiku waktu untuk berpikir. “Ini dibawa, Bu?” “Ini gimana?” dan semua pertanyaan yang harus aku jawab dan awasi sambil berteriak pada krucil yang tak bisa diam.

Estimasi yang mereka berikan adalah 6 jam pengepakan. Mulai 9 pagi sampai 3 sore. Ternyata pukul 1 siang sudah beres semua. Keren! Dan aku nyengir mendapati (mantan) rumahku yang berantakan kebanyakan kertas dan buku tak terpakai lagi. Ternyata aku dan adikku sama aja: penimbun segala sesuatu yang bisa ditulis. :lol:

Cuman ribetnya banyak aja tetangga yang datang dan bertanya ini itu. Haduh, aku lagi gak bisa mikir, jadi tadi tuh rada geregetan gitu deh. “Pindahan sekarang?” “Kok gak bilang?” “Kok mendadak?” “Ada warisan gak?” “Ada yang ditinggal, gak?” “Berapa dijual?” *muka super datar dan tegang* Mau teriak rasanya. Aku bukan tipe yang suka digerecokin ketika sedang dalam keadaan hectic dan crowded. Plis deh :(

Rencananya aku mau naik bus MGI untuk nyusul. Tapi kemudian tim Mandiri meminta aku untuk ikut dengan mereka agar lebih mudah. “Daripada tunggu-tungguan, Bu. Kalau barang dateng duluan gimana?” tanya salah seorang dari mereka. Iya juga sih.. Mayan ngirit ongkos. Ahahaha… :D  Selama di perjalanan, aku tertidur lumayan nyenyak dengan beberapa kali terbangun. Maklum krucilku rempong. :D

Tiba di rumah baru pada pukul 5.30 sore. Alhamdulillah. Disambut oleh tetangga yang langsung melihat dengan terpana segala kehebohan ini… Hehehe, maaf yaaaa… :)

Kemudian kegalauan itu dimulai. Betapa aku akhirnya sadar bahwa aku akan membereskan semua ini sendirian… Aaaaakkkk…. Dimulai dari kepanikan mencari handuk, pasta gigi, baju ganti, dan diaper Salman. Alhasil, jempol tangan kiri terkena gunting tajam. =,=’

Aku pun baru menyadari, 50% dari tumpukan dus yang membuat mataku sakit ini berisi buku-buku… Oh Tuhan, betapa ternyata aku memang kutu buku sejati. :D Jumlah buku lebih banyak dari baju :lol: Parah ya? Juga di-sms oleh Adie bahwa ketinggalan 1 lukisan orangtua yang ada di gudang… *tepok jidat nyamuk* “Iya. Gede dan berat.” Cakeeeeeepppp….

Jadi, selesai untuk hari ini (eh, Jumat maksudnya. ini nulis udah masuk Sabtu). Terima kasih tak terhingga pada Sang Maha Hidup yang telah membuat skenario terhebat :)

BANDUNG, AM HERE NOW!!! LOVE YOU MORE AND MORE!!!

Geeeezzzz…. *inhale exhale*

Can’t think anything clearly anymore.

Ah ya, tentunya aku harus sadar satu hal: lahir ke dunia ini sendirian. Tentu mati pun kelak sendirian. Lantas, kenapa harus pusing kalau mengerjakan semuanya sendirian selama hidup???

Manusia makhluk sosial. Memang. Tapi saking memiliki jiwa sosial malah jadinya sok sibuk. Nyinyir atau sarkas? BOTH!

Ya, aku sedang berusaha tenang ketika memikirkan kepindahan rumahku. Pengurusan surat rumah, transport, pajak, berurusan dengan pemerintahan daerah, packing all the fucking stuffs, ngurusin anak-anak (yang nyaris terlantar karena aku sibuk sendiri), kerjaan yang keteteran (utang tulisanku numpuk ya bo!), dan segala hal remeh-temeh lainnya.

Mau nangis? Bukan mau lagi. Saat menulis ini pun aku sedang menangis. Bukan karena aku cengeng, tapi karena nahan sakit kepalaku yang teramat sangat. Vertigo aku kumat. Rasanya mau pecah. Ditambah teriakan anak-anak berebutan mainan. Cakep deh!

Aku gak minta apa-apa sama Allah. Hanya dua hal: aku diberi kekuatan fisik dan pikiran selama mengerjakan semua ini, ditambah dengan kesabaran menghadapi anak-anakku. Fokusku terbelah. Anak-anak sih sebenarnya tak masalah. Tapi akunya yang have guilty feeling more than anything… *sigh*

Adikku sendiri pekerja kantoran yang tak mungkin bisa membantuku mengurus kepindahan rumah ini. Aku maklum dan aku berkata padanya bahwa semua baik-baik saja…. Well, i hope so.

Kalau saja aku tak punya rasa malu dan iman (meski tipisnya minta ampun), aku sudah memaki dunia dan seisinya. Hah, ini memang kelemahanku yang manja dan cengeng.

Pada akhirnya aku setuju dengan perkataan kangmas Robert, idolaku yang ganteng:

Apa pedulinya orang-orang dengan apa yang aku lakukan? Emang masih ada yang peduli? (langsung digampar para sahabat dan juga… patjar :D ) Hihihi, pernyataan yang mengundang omelan tujuh hari tujuh malam. But anyway, aku ingin membuat para sahabatku bangga bahwa aku bisa menyelesaikan semuanya hampir sendirian (kalau campur tangan Tuhan sih itu gak masuk hitungan karena pasti adanya). Meski akhirnya aku marah-marah sambil menangis, mereka tahu bahwa aku memiliki keterbatasan. Setidaknya demikian.

Terima kasih untuk Sary, Ve, Kiki, Danny, Ichy, Nta, Saidah, Ndah, Vei, Alfa, Indra B7RU, Zul, Irfan, kang Wawan, kang Kipow, dan kang Sona untuk segala bantuannya baik moril dan materil sampai detik aku menulis ini. Doa kalian sungguh berarti saat aku membutuhkannya. Tanpa kalian, aku tak akan sekuat ini…

Allah, give me Your strength… More…

babak satu.

mereka mulai membencimu. | rasanya aku gak berniat nyari musuh deh. | mungkin kamu tak ada niat. tapi mereka tak suka. | salahku apa? | karena kamu bukan siapa-siapa. | apakah itu penting? sedemikian rupa mereka begitu? | diam saja. tak usah banyak bicara. begitu lebih baik. | ini bukan mauku. | aku paham. | harusnya mereka empati. mencoba memikirkan apabila posisi mereka itu ada padaku. | mereka tak paham. | aku pun tak berniat membuat mereka paham. | maka diamlah.

—–

babak kedua.

apakah penting sebuah status di mata masyarakat? | sudah terkikis jaman. | lantas bagaimana dengan norma dan dogma? | penting. setidaknya bagi mereka yang menganggapnya penting. | apakah kita masih bisa dan masih boleh menolak pilihan? ini berkaitan dengan hati. | aha, kau terjebak dalam roman picisan. | aku bertanya. jawab saja. | jika hatimu telah memilih, ikuti dia. kau tahu, dia tak pernah berbohong. | meski itu melawan norma dan dogma? | Tuhan yang memberimu skenario-Nya. jalankan saja. ini episode selanjutnya dalam hidupmu. | aku tak siap. | mati pun tak menunggu kesiapanmu.

——

babak ketiga.

kupikir aku masih pantas bahagia. | memang masih. buktinya kamu masih bisa tertawa kan? | maksudku… | dicintai. begitu? kasihan sekali kamu! kurang cinta apa Tuhan terhadapmu? memberi segalanya padamu gratis tanpa minta imbalan. apa yang kamu harap dari seorang makhluk? | cinta mereka terbatas. mereka dengan mudah melupakan tanpa rasa bersalah. | nah! tuh nyadar! | tapi aku iri… | pada pasangan yang katanya-berbahagia-sampai-kakek-nenek-tanpa-masalah itu? sudahlah. berhenti mengasihani dirimu sendiri. kamu masih pantas bahagia. | dengan atau tanpa. begitu? | ya. karena kebahagiaan itu kamu yang menciptakan, bukan karena orang lain.

Iseng ngetwit dengan analisan sotoy tentang pernikahan. Belum tuntas. Tapi boleh disimak. ;)

—-

mencintai seseorang itu harus APA ADANYA, jangan ADA APANYA! kalau menikah pun ya harus terima paket kelebihan dan kekurangan dong! tsk…

terima pasanganmu dengan hati dan pikiran yang terbuka. kecuali jika memang ada hal yang tak bisa ditolerir. dalam kasusku, memang demikian.

menikah bukan perjanjian kontrak antar manusia. tapi sumpahmu terhadap Tuhan. mempermainkan pernikahan artinya imanmu dipertanyakan.

jika memang tak sanggup untuk beribadah (menikah) dengan benar, berpuasalah. itu lebih baik. maka Allah akan menunjukkan kuasa-Nya atasmu.

menikah itu bukan pelegalan dan penghalalan seks semata. manusia bukan binatang. kita diberi akal dan perasaan. jangan mempermainkannya.

perjanjian yang berat. demikian dalam agamaku. pernikahan itu perjanjian yang berat karena saksinya langsung Sang Maha Cinta.

Tuhan memberimu rasa sayang dan cinta karena kasih-Nya padamu. mana bentuk syukurmu? menikahlah karena ingin beribadah pada-Nya. :)

tak pernah ada pernikahan yang bertujuan untuk sebuah perceraian. maka sebenarnya, Pengadilan Agama seharusnya tidak ada. tetapi nyatanya?

Tuhan membenci perceraian. tetapi bila ternyata memang ada yang tak bisa lagi dipertahankan dan itu dipikir dengan akal sehat, let it be.

pikirkan baik-baik sebelum menikah. kemudian, saat emosi negatif menguasaimu, pikirkan baik-baik sebelum mengucap kata ‘cerai’.

jangan memutuskan menikah ketika hati dan pikiranmu sedang melayang karena cinta. berpikirlah logis. pernikahan bukan untuk waktu sebentar.

pacaran (yang terlihat bahagia) tidak menjamin kamu bakalan sama bahagianya setelah menikah kelak. bukan itu parameternya.

menikah itu jangan menunggu kesiapan materi. sampai kiamat pun gak bakalan siap. putuskan menikah karena ingin beribadah. titik.

mintalah pada Allah, keputusan yang terbaik. kamu boleh kok milih pasangan yang kamu mau. nanti Allah kasih deh. hanya saja tak mudah ;)

=====

sementara segitu dulu. nanti sambung lagi. kalo inget. :P

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.