Lewati navigasi

Arsip Tag: Kegiatan

*manggut-manggut sambil menahan nyeri punggung*

Pindahan dari Depok ke Bandung (nyaris) mengerjakan semuanya sendirian. Sakit kepala? Pasti. Sakit badan? Jangan ditanya. Tapi sedikit lega karena satu masalah sudah terurai.

Benar terasa olehku bahwa janji Allah itu sangat tepat waktu :) Ketika aku mengurai satu per satu di atas kertas… Aku tertawa kecil. Tak ada yang kebetulan. Tak ada yang meleset, tak ada yang dikecewakan, tak ada yang salah. Semuanya pas. Waktu penjualan rumah Depok, harga yang disepakati, siapa pembelinya… Begitu pula dengan rumah Bandung. Rumah yang aku survey sambil menyanyikan lagu “11 Januari” dari GIGI #uhuks ;) Harga yang sesuai, lokasi yang pas, tetangga yang menyenangkan (semoga demikian adanya), dan krucilku langsung dapat teman… Ah, indahnya :)

Juga ketepatan waktu untuk move on dalam segala hal… Ini di luar dugaanku. Sungguh. Sangat tepat. Kaget dengan perubahan suasana hari secepat ini. Ketika aku meminta, Allah memberi. Adakah yang harus kusesali dan kutampik?

Oh ya, mengenai kegiatan moving hari ini tuh dimulai dengan kerusuhan seharian kemarin packing barang-barang pibadi.  Sambil berharap dan ngayal dibantuin sama patjar (ah elah!), aku asal memasukkan segalanya ke dalam koper. Pusing duluan.

Kemudian hari ini, pukul 8.30 pagi tim dari Mandiri Moverindo sudah datang. Keren, dengan jumlah personil 7 orang, mereka dengan sigap langsung membereskan semua barangku tanpa sempat memberiku waktu untuk berpikir. “Ini dibawa, Bu?” “Ini gimana?” dan semua pertanyaan yang harus aku jawab dan awasi sambil berteriak pada krucil yang tak bisa diam.

Estimasi yang mereka berikan adalah 6 jam pengepakan. Mulai 9 pagi sampai 3 sore. Ternyata pukul 1 siang sudah beres semua. Keren! Dan aku nyengir mendapati (mantan) rumahku yang berantakan kebanyakan kertas dan buku tak terpakai lagi. Ternyata aku dan adikku sama aja: penimbun segala sesuatu yang bisa ditulis. :lol:

Cuman ribetnya banyak aja tetangga yang datang dan bertanya ini itu. Haduh, aku lagi gak bisa mikir, jadi tadi tuh rada geregetan gitu deh. “Pindahan sekarang?” “Kok gak bilang?” “Kok mendadak?” “Ada warisan gak?” “Ada yang ditinggal, gak?” “Berapa dijual?” *muka super datar dan tegang* Mau teriak rasanya. Aku bukan tipe yang suka digerecokin ketika sedang dalam keadaan hectic dan crowded. Plis deh :(

Rencananya aku mau naik bus MGI untuk nyusul. Tapi kemudian tim Mandiri meminta aku untuk ikut dengan mereka agar lebih mudah. “Daripada tunggu-tungguan, Bu. Kalau barang dateng duluan gimana?” tanya salah seorang dari mereka. Iya juga sih.. Mayan ngirit ongkos. Ahahaha… :D  Selama di perjalanan, aku tertidur lumayan nyenyak dengan beberapa kali terbangun. Maklum krucilku rempong. :D

Tiba di rumah baru pada pukul 5.30 sore. Alhamdulillah. Disambut oleh tetangga yang langsung melihat dengan terpana segala kehebohan ini… Hehehe, maaf yaaaa… :)

Kemudian kegalauan itu dimulai. Betapa aku akhirnya sadar bahwa aku akan membereskan semua ini sendirian… Aaaaakkkk…. Dimulai dari kepanikan mencari handuk, pasta gigi, baju ganti, dan diaper Salman. Alhasil, jempol tangan kiri terkena gunting tajam. =,=’

Aku pun baru menyadari, 50% dari tumpukan dus yang membuat mataku sakit ini berisi buku-buku… Oh Tuhan, betapa ternyata aku memang kutu buku sejati. :D Jumlah buku lebih banyak dari baju :lol: Parah ya? Juga di-sms oleh Adie bahwa ketinggalan 1 lukisan orangtua yang ada di gudang… *tepok jidat nyamuk* “Iya. Gede dan berat.” Cakeeeeeepppp….

Jadi, selesai untuk hari ini (eh, Jumat maksudnya. ini nulis udah masuk Sabtu). Terima kasih tak terhingga pada Sang Maha Hidup yang telah membuat skenario terhebat :)

BANDUNG, AM HERE NOW!!! LOVE YOU MORE AND MORE!!!

Entah mengapa, calon rumah baru yang adikku suka justru yang aku survey pada tanggal 11 Januari 2012 lalu. (hey, ini #kode ;) ) Melalui shalatnya dan juga doa-doaku, kami condong pada satu pilihan dari beberapa yang telah dibandingkan.

Hari ini dimulai dengan bangun pagi yang super sulit untuk Salman yang masih kelelahan. Kemudian kami bertiga berangkat ke Bandung menggunakan bus MGI paling pagi bersama adikku. Tak henti aku berdoa semoga anak-anak dikuatkan dan disehatkan agar lancar perjalanan ini.

Sampai di Bandung pukul 9 pagi dan sarapan di Ampera. Kemudian niatnya sih menunggu bus yang ke arah Jatinangor. Tapi lama ya, bo? Jadilah kami naik taksi ke Cibiru yang menghabiskan ongkos Rp50.000,- !! *pingsan*

Lumayan lama juga di Cibiru. 4 jam hanya untuk menentukan sikap. Allah, aku dan adikku tak henti memohon petunjuk-Nya. Dia Maha Penentu. Ada rasa degdegan tapi tidak sampai menimbulkan gelisah. Masalahnya kami harus menghitung ulang segala perincian biaya yang ada. Ada rasa ingin menangis. Entah karena apa. Tetapi aku yakin, ada hikmah dari semua ini. Allah, selalu menguji kesabaranku dengan cara-Nya yang unik dan indah.

Setelah dari Cibiru, kami ke daerah Kebon Kalapa. Biasalah, kukurilingan teu puguh. Niatnya sih ngilangin stres. Hihihihi… Lumayan dapat 1 jaket abang Umar plus mainan untuk dia dan adiknya. Umar sempat ngotot mau main di Timezone di King Plaza. Waduh, bisa pulang malam kalau begini mah. Kutegaskan bahwa kami akan segera pulang ke Depok. Toh dia sudah mendapat mainan.

Kami naik bus Bandung-Depok yang berangkat pukul 5 sore. Kebayang ya bagaimana hari ini untuk seorang anak usia 6 tahun dan 3 tahun? CAPEK LUAR BIASA. Lah, emaknya aja ngerasa mau remuk redam begini. *hweh* Tapi perjuangan belumlah berakhir. Masih ada yang harus kami selesaikan terlebih dahulu.

Ketika aku mendapat sedikit rasa lega tentang sebuah pilihan, mendapat berita melegakan lainnya tentu saja membuatku tersenyum senang. Alhamdulillah, aku ikut senang. Yah, apa pun itu, meski pun aku tak mengetahuinya langsung, tetapi dapat kurasa dalam hati. Aku mengamini. :)

Kembali ke Depok sebenarnya dengan perasaan gamang. Bukan lagi rumahku. Sementara rumah baru pun sampai saat ini nge-blur alias masih berbayang tak jelas. Pemilik rumah baruku dengan bahasa tubuhnya yang SANGAT JELAS TERLIHAT mengatakan agar aku segera angkat kaki dari rumahnya. Oh baiklah… Tingkat stresku berkurang satu dan bertambah satu. Jadi? Ya podho ae toh? Hwaduh…

Entahlah… Hingga detik aku menulis ini, aku masih ingin berdua dengan-Nya. Menumpahkan segala ketidakberdayaanku. Betapa aku membutuhkan-Nya untuk memelukku dengan segala kuasa dan cinta-Nya. Illahi Rabb…

Hm, ya gitu deh. Seperti biasa sebenarnya sih… Tapi hari ini istimewa karena mereka berhasil membuat rusuh di Buah Batu. Haiyah!

Tetap dimulai dengan keriuhan di pagi hari di rumah Nani, teman SMPku di Cibeunying. Janjian sekitar pukul 7 pagi dengan kang Sona harus bubar jalan karena krucilku makannya lama dan masih ingin main. Wataaawww…. Bakbikbuk kedubrakan mencoba sampai di tempat janjian tepat waktu. Tapi kemacetan dan angkot yang melaju seperti keong menyebabkan waktu molor telah 1 jam. Cakep, yes? :( Umar dan Salman bawelnya super deh selama di perjalanan. Hingga ketika menunggu jemputan pun mereka menjadi rewel.

Akhirnya yang menjemput adalah Kang Ei dan Kang Irfan. Umar dan Salman girang banget deh dijemput pakai mobil. Mereka paling suka, tentu saja. ;) Dan lupa tuh dengan rewelnya yang memusingkan kepalaku :D

Sampai di tempat tujuan, aku bertemu dengan Kang Sona yang menyambutku dengan tampang rada bete di balik senyumnya. Hweh! Hampura atuh, Kang! Kemudian ada Kang Taufik yang tetap saja tak diingat oleh Umar & Salman. Wakakaka :lol: , maaf ya Om Opik? :P Terus ketemu Kang Yana dan anak istrinya. Ih itu anak perempuannya lucu sekaliiiiiiiiiii…. GEMEEEESSSS…. :)

Ada Ceu Girinyih dan Abah Amin (akhirnyaaaaa…. *yak drama lebay dimulai*) Hehehehe… Juga ada Kang Hermawan (Ceef Ones), Kang Dedi Akung Sobari, Ki Ubbay, dan yang lainnya. *tunggu, eikeh masih meraba-raba wajah asli dan photo profile di FB, nih!*

Waktu baru datang sih aku langsung ditodong Kang Hermawan untuk membahas soal biaya pajak rumah. Lumayan ribet dan puyeng ya? Baiklah setidaknya bayangan biayanya tak semengejutkan (apa ini bahasanya) yang kupikirkan.

Ketika aku memperkenalkan diri, baru deh pada ngeh siapa aku. Hiyah, gubrak! Coba deh ya yang paling kaget masa sih Kang Dedi dan Kang Benno? *mikir garuk kepala* Oh ada satu lagi… Yang akun fesbuknya “Murangkalih….” (lupa juga lagi, gak hafal) sampe tanya gak yakin, “Oh ini Teh An Diana?” :D  Baiklah… Aku memang baru pertama kali bertemu dengan kalian kecuali Kang Irfan dan Kang Taufik. Yuk mareee….

Yang termasuk rombongan terakhir adalah Kang Ndien (bener apa salah ya?), Nyi Iroh, Nyai Endit dan Teh Odah. Ahey, akhirnya… :) Alhamdulillah, mereka semua persis seperti yang ada dalam bayanganku. (apa deh!)

Waktu mau pulang, aku sempat membawa 3 porsi burgongnya Kang Taufik. *iya, itu sih wajib* :D

Mohon maaf ya pada sahibul bait atas keriuhan yang dilakukan oleh kedua krucilku hari ini… Terima kasih banyak pada semua tim Banyolan Sunda yang sudah memberiku ruang untuk bersilaturrahmi. :)

Sayangnya belum bertemu Kang Jajang / Ki Jayus, Koh Bunhaw, Kang Yayan Bedog, dan siapa lagi ya? *mikir* Ya sudahlah, insya Allah lain waktu ada kesempatan lagi. :)

Sekian untuk hari ini dan terima gosip. *pletak!*

Sudah apdet blog juga. Iya, ini #kode ;)

Well… It was so amazing! Only three of us and everything were in my best control… ;)

Hari Kamis 26 April siang tiba di Bandung setelah naik bus 3 jam dari Depok. Langsung ke Kiaracondong naik angkot 2 kali. Harusnya sih sekali, tapi si supir angkot yang pertama nyebelin banget. Mentang-mentang isinya tinggal aku dan krucil, maen dioper aja seenak jidat. Dengan logat Batak yang kental, dia menyuruh aku pindah dan tetap memaksa menarik ongkos. Padahal setauku di mana pun yang namanya dioper gak perlu ngasih ongkos dong? Semoga dia gak sakit perut deh udah maksa minta ongkos dengan cara seperti itu.

Sampai di Kiaracondong, naik becak lagi ke dalam jalan Soma dan sudah kuberi ongkos 5000 masih ditagih lagi 5000. Yah, demikian juga dengan Anda ya Bapak tukang becak, semoga gak sakit perut.

Sampai di Penginapan Paksoma yang terletak di jalan Parepandan II, segera mendapat kamar yang sudah kupesan via sms. Lumayanlah untuk bermalam. Sangat sederhana tapi anak-anak nyaman. Tidur kan merem, jadi gak perlu juga kamar mewah :P Rekomen buat yang punya bujet terbatas seperti eikeh untuk penginapan tapi bujet gede buat belanja. #eh #abaikanbujetbelanja

Setelah krucil mandi sore, mereka asyik bermain di halaman homestay dan aku bekerja online sambil menyelesaikan tulisan. koneksi internet bagus tapi sinyal Esia langsung tewas. Beuh +_+ Tapi yang penting aku bisa online untuk checking tugas dan memantau bisnisku yang baru bertelur. *ayam, kaleeee*

Tidur di malam pertama di penginapan membuat anak-anak nyaman. Syukurlah :) Aku pun tidur cepat karena hujan membuatku malah ingin segera berada di balik selimut, yang kemudian tarik-tarikan dengan krucil. :lol:

Jumat 27 April. Bangun pagi, aku sudah diajak galau sama koneksi internet yang bikin emosi. LEMOT BLASSS…. Aaaaarrrggghhh…. Padahal sudah coba koneksi dari subuh. Untunglah sempat mengerjakan tugas dan ketika selesai, jeblok lagi deh tuh sinyal. #ngek!

Sarapan mie baso dan susu untuk anak-anak. Emaknya kebagian menjadi cleaning service aja :) Selesai mandi dan berpakaian, kami langsung berangkat untuk jalan-jalan. Bingung mau ke mana… Pikiran pertama adalah ke Leuwi Panjang dulu dan mau langsung ke Soreang. Tapi karena salah lihat angkot (hanya kelihatan warna merahnya saja), ternyata naik yang jurusan Elang, sodara-sodara! *panik* Wataw, ini sih ke alun-alun yaks? Baiklah… Kita menuju daerah belanja nasional *apadeh* Menjelajah ke Kings Plaza dan mentok juga makannya di Hokben demi bonus mainan. Sebelumnya sih main di Timezone dan beli jus buah segar untuk bibirnya Salman itu :(

Harus ekstra sabar karena Salman sedang sariawan. “Bunda, sakit! Bunda, perih! Bunda, gak mau makan!” Duh duh duh… Sedihnya… Tapi untunglah minumnya kuat. Jus, susu, dan air putih masuk semua. Jadi kencing banyak tak masalah.

Setelah menunggu bubaran shalat Jumat, barulah kami ke Masjid Agung. Umar dan Salman puas berlarian karena luasnya bangunan masjid. :) Kami tak bisa berlama-lama di masjid meski masih ingin main karena harus langsung ke Soreang. Uwow, hujan deras di daerah Kopo dan Soreang. Si supir angkot yang awalnya berniat baik menolong mengantarkan sampai tempat tujuan (Cangkuang) dan mengatakan biayanya hanya 20.000 tiba-tiba di tujuan menjadi 25.000. Ya sudah, aku hanya diam. Mudah-mudahan tidak diare, ya Pak?

Di Cangkuang persis orang bego. Umar dan Salman mulai rewel karena tak betah menunggu orang yang akan menunjukkan rumahnya. Iyes, kita memang sedang survey calon rumah baru ;) Bisikan hati sih nyuruh langsung pulang deh. Males banget kan nunggu yang gak pasti sambil bawa anak begitu? Kasihan krucilku… Setelah menunggu dari siang dan baru ketemu si adik pemilik rumah pas Ashar (esmosi es lilin deh!), kami langsung ke Rencong demi mencicipi Bubur Jagong Rencong yang terkenal itu… Hohoho.. Om Taufik langsung geer deh! Dan juga baru ingat mainan hadiah dari Hokben tertinggal di angkot si bapak. Duh… “Maaf ya, Bunda? Aku gak sengaja,” ujar Umar dengan wajah takut. Aku menghela nafas berat mencegah agar tidak marah.

Agak kecewa setelah aku ke rumah yang di Cangkuang itu. Cukup banyak kejanggalan yang kudapati dan membuatku malas berlama-lama di sana. Lingkungannya sih asyik. Tetapi rasanya cukup sekali aja ke sana. Meski awalnya aku jatuh cinta pada kriteria yang disebutkan si calon penjual padaku via e-mail. Ketika melihat langsung, mungkin aku akan bertahan. Namun bahasa tubuh dan bicara penghuni rumah membuatku berpikir ulang. What’s going on there?

Di Rencong, aku melihat sendiri kehebohan yang selama ini hanya aku baca di fesbuk. Beneran ternyata, ngantri dan ramai sekali. Keren ih! Taufik tak menyadari kedatanganku dan krucil sampai dia sendiri yang menoleh ke belakang (posisiku di dekat pagar). “Heeeee… Udah lama?” tanya Taufik kaget. Umar yang nyamber, “Om sibuk sih! Jadi gak tau deh kalau aku dateng,” ujarnya dengan mimik lucu. Rasanya aku kok akrab ya dengan wajah seseorang yang membantu Taufik berjualan? *tapi siapa?*

Langit sudah gelap, maka kami tak bisa berlama-lama di Rencong karena Umar dan Salman sudah rewel kelelahan. Baiklah! Kita pulang (ke penginepan)! Setelah shalat Maghrib, kami pulang naik angkot ke Moh. Toha dan dilanjutkan dengan taksi. Maklum, satu-satunya cara menenangkan mereka adalah dengan tidur di taksi. Kasihan sekali :( Semoga perjuangan mereka tak sia-sia :)

Sempat terjebak macet sesaat ketika melewati kawasan pabrik yang sedang ganti shift. Waduh, bakalan menikmati ini setiap lewat sana pas makan siang dan sore hari kali ya? Juga sempat jengkel dengan seorang pemuda yang duduk di pinggir angkot gak mau turun kasih jalan untuk seorang ibu yang mau turun. Dih!

Sampai di penginapan, baru terima sms dari sepupu yang tinggal di Antapani. Wah, gak bisa dong malam-malam ke sana? Gak sopan banget kan? Ya sudah, extend semalam di Kiaracondong. Lagi pun, mendadak aku berpikir untuk survey ke daerah Manggahang Baleendah pada Sabtu siang sebelum kembali ke Depok.

perjuangan mencari rumah yang sebenarnya. tempat berkumpul bersama keluarga.

(Kalau gak ingat untuk apa tujuanku pindah-pulang- ke Bandung, rasanya mau menyerah karena lelah…)

Sabtu 28 April. Bersiap untuk kembali ke Depok. Tapi kami bertiga punya tujuan akhir hari ini. Ke Manggahang. Bismillah aja sih. Setelah sarapan, mandi, dan berpakaian, Umar bertanya, “Bun, kita mau ke mana? Pulang?” Pertanyaan yang membuatku galau to the max. Asli. Pulang ke mana? Lebay? Biarin deh!

Hari ketiga naik turun angkot lagi sebenarnya membuatku nyeri. Melihat anak-anak yang begitu antusias namun mudah lelah karena jauhnya perjalanan, menjadikan aku semakin kuat berusaha untuk tidak menyerah begitu saja.

Naik angkot yang supirnya (lagi-lagi) orang Batak. Macet total di depan pabrik tekstil untungnya tak membuat krucilku uring. Dengan asyiknya mereka berceloteh dan mencari perhatian para penumpang lain. Salman tetap kadang rewel dengan sariawannya. Do’oh >_<  Mereka kembali lelah ketika angkot telah melewati kemacetan dan mendekati daerah Manggahang malah tertidur. Yang ada memang aku pun sempat terlelap dan akhirnya kebablasan. Turun dari angkot, beli es krim dulu baru kembali ke rute awal yang untungnya hanya berjarak 1 kilometer.

Setelah tanya sana sini, akhirnya menemukan rute tujuan. Menunggu ojek untuk mengantarkan kami ke lokasi. Hey, ketika naik ojek, yang kulihat adalah bukit dan hamparan sawah. Subhanallah, seksi banget! Dan seketika aku merasa pulang… Ojek yang hanya dua ribu itu mengantarku sampai ke depan rumah yang kumaksud.

Suasana tenang di sekitarnya langsung membuat anak-anak gemas untuk bereksplorasi. Mereka menjelajah rumah tanpa sempat mengucapkan permisi pada tuan rumah. Aduuuhhh…. “Gak apa-apa, Mbak Anna,”  jawab Pak Banu, sahibul bait. (jadi keren gitu namaku dipanggil Anna. Sounds so sexy, hm? ;) ) Sementara aku berbincang dengan Pak Banu, Umar dan Salman tetap asyik bermain. Aku melihat sosok Pak Banu sebagai pria kesepian sejak ditinggal mendiang istrinya. Persis almarhum bapakku. Rapuh. Ringkih. Namun menyisakan sedikit semangat untuk tetap produktif di usia senja.

Mendung yang mendadak membuat langit gelap seketika. Aku terpaksa mengajak anak-anak untuk bergegas pulang. Baru saja sampai di pos siskamling untuk menunggu ojek, hujan turun mendadak dengan derasnya. Wadaaaaaaaaawwww……… Lho, kok tapi Umar dan Salman tidak uring? Malah mereka asyik bermain kulit buah duku dan melemparnya ke sawah… *hehehe, maaf ya buat yang punya sawah* :D Umar tidak pakai jaket dan menolak memakai cardigan aku. “Gak ah! Enak begini, kok! Pake aja sama Bunda deh!” Dan aku? Menikmati tetes hujan yang berlomba untuk sampai ke tanah.

Setelah agak reda, pas ada sebuah ojek menawarkan untuk ke depan. “Payun, Teh?” Hayu ah! Udah sore nih! Serunya naik ojek ketika hujan. Umar dan Salman tertawa dan teriak, “Basah nih, Bun!” Hehehehe…

Kami menuju rute sebaliknya yang siang tadi dilalui. Hujan rintik. Sampai di Soekarno Hatta, kami makan dulu di RM. Ampera. Umar sih makannya lahap. Bagaimana Salman? Teriakan sakit sariawannya membuat semua yang makan pada menoleh. *gubrak* Dia itu memang selalu heboh kalau sakit. Apa juga dirasa sangat menyakitkan. Cari perhatian. Hweeeeeeeeehhhh….

Setelah selesai makan (dan Salman hanya menyisakan lauk utuh yang akhirnya dibungkus untuk dibawa pulang), kami menuju terminal Leuwi Panjang untuk kembali ke Depok. Di bus, mereka tidur nyenyak. :) Good boys ;)

—————-

Ada beberapa yang mengusik hatiku selama di Bandung. Aku mempelajari tabiat warga Bandung yang naik angkot, warga sekitar, ketidaktahuan mereka tentang rute-rute angkot, dan keagresifan menawarkan layanan angkutan umum membuatku rada keki. Gak tau yaaa… Jangan pada protes! :D

Terutama yang naik angkot dan duduk di dekat pintu. Kalau ada yang mau turun, kenapa sih gak ikutan turun dulu untuk memberi jalan? Etikanya di mana gitu lho??? Behave, guys!!

Nah, aku harus cerita apa lagi ya?

UPDATE:

Oh ya, aku mau cerita tentang 8 orang Malaysia yang menginap di Paksoma. Hm, kekuatan internet memang dahsyat! Ceritanya di Jumat pagi, aku sedang memberi sarapan Salman ketika seorang ibu mendekatiku. “Dari mana, Dik?”

“Jakarta, Bu,” kujawab dengan senyum efektif.

“Jakarta? Jauh dari sini?” tanya Ibu itu polos. Aku yang blingsatan. Kok pertanyaan si Ibu aneh ya?

“Tiga jam perjalanan, Bu,” jawabku berusaha tenang.

“Oh, begitu? Naik apa?”

“Bus kota. Dari terminal Leuwi Panjang.”

“Oh, begitu ya? Saya sekarang hendak pergi ke Jogja. Rancangannya hendak ke Surabaya.”

Ran-cang-an? Bahasa Melayu?

“Ibu dari mana?”

“Malaysia,” jawabnya tenang. *gubraaaaakkkk* Aku langsung berdecak kagum dengan penginapan-maha-sederhana ini.

“Sendirian, Bu?”

“Tidak. Dengan seorang laki dan dua orang ibu tua. Sisanya seusia saya,” jawabnya dengan logat yang akhirnya kusadari memang Melayu. *gigit sendoknya Salman*

Kemudian ibu itu pamit hendak merapikan barang-barangnya. Tak lama, datang seorang nenek menepuk pundakku pelan. “Tak ada kawan?” Aku kaget dan menoleh.

“Oh, saya dengan anak,” jawabku masih kaget.

“Ah, kanak-kanak,”  si nenek tertawa memperlihatkan ompongnya sambil memandang Salman. Aku tersenyum tipis. Dan si nenek pun berlalu dengan cueknya. Hihihihi…

Kemudian datanglah seorang bapak yang ternyata satu-satunya pria dalam rombongan Malaysia tersebut. “Hei, ada kanak sedang makan.” Salman mendadak grogi dan malu. Dia menghentikan makannya dan menyembunyikan wajahnya di dadaku. Si bapak itu tertawa, “Ah, malu dia. Makanlah, Nak. Makan, ya?” dan dia pun berlalu menuju kamarnya. Salman mengintip dan tersenyum salah tingkah. Hihihihihi… :P

Nah, begitulah kami mewarnai hari di Bandung selama 3 hari ;)

Berikut ini adalah penuturan daeng Khrisna Pabichara dalam twitnya setelah acara #PakRadenNgamen di rumah tokoh kecintaan anak-anak itu di Jakarta kemarin sore (14 April 2012).

===

Terima kasih kepada sahabat Si Unyil yang sudah menghadiri acara#PakRadenNgamen dengan penuh antusias.

@_PakRaden_ menderita osteoarthritis yang menyerang sendi tulang belakang, pinggul, lutut, dan kaki. #PakRadenNgamen

Tetapi yang paling didambakan oleh @_PakRaden_ adalah kembalinya hak cipta atas boneka Si Unyil dkk. #PakRadenNgamen

#PakRadenNgamen sekaligus kampanye sadar hak kekayaan intelektual bagi seniman/budayawan agar tak senasib dengan@_PakRaden_

Mata @_PakRaden_ berkaca-kaca tiap menerima sumbang rasa, apalagi waktu Amel ‘presenter cilik’ yang sekeluarga mengagumi beliau.

Bermula dari tawaran PFN untuk menertibkan maraknya pemakaian nama Unyil dkk sebagai merek, @_PakRaden_ pun mengiyakan tawaran itu.

Ada produk makanan ringan, roti, bahkan acara di televisi yang menggunakan nama Unyil atau Pak Raden. Sebab itulah diurus Hak Ciptanya.

Tanggal 14/12/1995 penyerahan pengurusan Hak Cipta ditandatangani. Pihak pertama PFN diwakili Dr. Amoroso Katamsi, pihak kedua @_PakRaden_

Surat perjanjian bernomor 139/P.PFN/XII/1995 menyebutkan bahwa@_PakRaden_ adalah pencipta nama Si Unyil dan bonekanya.

Surat Perjanjian tersebut juga disebutkan bahwa boneka Si Unyil dibuat @_PakRaden_ dalam hubungan dinas dengan PFN (pihak pertama).

Pada Pasal 1 diterakan penyerahan pengurusan Hak Cipta dan Hak Eksploitasi (komersial) dari @_PakRaden_ kepada PFN.

Pada Pasal 2 disebutkan bahwa @_PakRaden_ menyerahkan Hak Cipta “Boneka Si Unyil” tanpa imbalan apa pun dari PFN.

Apabila ada pihak ketiga menggunakan brand Si Unyil dkk., maka@_PakRaden_ berhak atas royalti 50% dari kerja sama itu (Pasal 3 ayat 1).

Royalti 50% dari kerja sama dengan pihak ketiga itu diserahkan oleh pihak pertama selambat-lambatnya satu bulan kepada@_PakRaden_

Apabila terjadi perselisihan pendapat antara kedua belah pihak (@_PakRaden_ dan PFN), akan diselesaikan secara musyawarah (Pasal 5).

Perjanjian penyerahan Hak. Cipta itu berlaku selama lima tahun (Pasal 7). Berarti, 14/12/2000 mestinya kembali kepada@_PakRaden_

 Yang janggal adalah perjanjian itu ditandatangani dalam dua versi berbeda dengan nomor yang sama: 139/P.PFN/XII/1995.
Pada rangkap pertama, Pasal 7 menerakan batas waktu lima tahun. Sementara berkas kedua, Pasal 7 tanpa batas waktu.#PakRadenNgamen
Kedua perjanjian bernomor sama dengan satu pasal isinya berbeda ditandatangani pada hari yang sama. #PakRadenNgamen
@BeaWalter Saya tidak menemukan paraf pada tiap halaman. Asumsi saya, karena pasal awal sama, Pak Raden tanda tangan.
Lebih parah lagi, hingga hari ini @_PakRaden_ belum pernah menerima sepeser pun hak royalti (pasal 3 dan 4).#PakRadenNgamen
Andaikan pihak ketiga memakai brand “Mainan Si Unyil” dengan akad kerja sama Rp 60 juta, berarti ada hak @_PakRaden_ Rp 30 juta di sana.
@_PakRaden_ bukan pegawai negeri di PFN. Awalnya beliau diajak Pak G. Dwipayana untuk membuat film anak buatan dalam negeri.#PakRadenNgamen

Upah terakhir yang diterima @_PakRaden_ sebesar Rp 2,5 juta bukan dari royalti, melainkan honor beliau mengisi suara Pak Raden.

@bennebee Sejak penandatanganan hingga hari ini, @_PakRaden_belum pernah menerima royalti. Kami bermaksud mencari informasi ke Dirjen Haki.
Sejak 6 tahun silam, @labulucu mempertanyakan pengurusan royalti itu. Namun @_PakRaden_ menolak karena masih kuat mendongeng atau melukis.
Namun semenjak menderita osteoarthritis, kemampuan@_PakRaden_ menurun dan ke mana-mana harus dengan kursi roda. #PakRadenNgamen
Mengingat jasa @_PakRaden_ dalam menghadirkan tontonan menghibur dan mendidik, naif jika pemerintah berdiam diri#PakRadenNgamen.
Bondan-F2B dan Charlie yang spontan hadir dalam#PakRadenNgamen adalah bukti banyak orang mengenang Si Unyil dan @_PakRaden_
Namun, sebagaimana tutur @_PakRaden_, upaya memperjuangkan hak cipta ini sekaligus agar kita menyadari pentingnya hak kekayaan intelektual.
Terima kasih sahabat kicau yang menyimak linikala saya. Semoga hajat besar @_PakRaden_ bisa beliau raih tatkala “matahari makin rebah”.
+++++
twit-twit tambahan:
@_PakRaden_ tidak menerima, Mas. RT @harrismaul: mpek2 Pak Raden sama Roti Unyil bayar hak cipta nggak sama beliau?
RT @_PakRaden_: Terima kasih atas segala yang terjadi malam ini. Pesta sudah usai, perjuangan baru dimulai. #pakradenngamen
Pak Raden, Bondan Prakoso dan F2B. #pakradenngamen http://mypict.me/mRyYl

Berat menanggung biaya berobat rutinsetiap Selasa, bayar listrik, dan masih menumpang. RT @acankz miskin sekalikah itu pak raden?

Sakit, Tiap Bulan Pak Raden Keluarkan Rp 2 Juta http://m.tempo.co/2012/03/21/391672/
Bagaimana jika gagal mendapatkan kembali hak cipta? Usaha dulu, gagal juga hasil dari sebuah usaha. ~ @_PakRaden_
Usro’ juga RT @DharmawanAngga Usro RT @1bichara: Si Unyil, Pak Raden, Pak Ogah, Bu Bariah, Ableh, Meilani, Cuplis, Ucrit, Kinoi, Bu Unyil
Benar, Om. RT @Bemz_Q: Kejadian yg menimpa @_PakRaden_ dan boneka-bonekanya adl contoh buruk ttg perlindungan hak cipta di negeri kita.
RT @ilham_bintang Drs Suryadi atau Pak Raden adalah gambaran realitas kelam masalah penghormatan/perlindungan hak cipta seniman di Indonesia
@therendra Pasal 6 menyatakan akan ada perjanjian tambahan, tapi menurut @_PakRaden_ tak pernah ada perjanjian lain.
====
Sebab banyak DM yang mempertanyakan kata ‘kejanggalan’ pada twit saya semalam soal perjanjian @_PakRaden_ dengan PPFN, berikut jawaban saya.

1. Dasar perjanjian Surat Perjanjian No. 139/P.PFN/XII/1995 ialah ‘penyerahan’. Berarti PPFN wajib, mengembalikan ‘yang diserahkan’ itu.

2. Ada klausul ‘pengurusan dan penggunaan untuk maksud-maksud komersial’, berarti ada hak royalti bagi yang menyerahkan–yakni@_PakRaden_
3. Eksploitasi–maksud-maksud komersial–dari Si Unyil di luar film/video ada hak royalti @_PakRaden_ sebesar 50%, tertera pada Pasal 3.
4. Faktanya, @_PakRaden_ tidak pernah menerima royalti dari pembuatan acara, merek dagang, atau maksud komersial selain film dan video.
5. ‘Jika terjadi perselisihan … dilakukan musyawarah.’ (pasal 5), musyawarah seperti apa dan bagaimana bentuk penyelesaian sengketa?
6. Perjanjian dalam dua versi. Pertama, ada batas waktu. Kedua, tak berhingga. Menurut saya, ini yang paling janggal.
7. Bagaimana bisa satu perjanjian bernomor dan bertanggal sama bisa memuat klausul berbeda–pada pasal yang sama?

8. Jika dasar argumennya adalah “PPFN yang menanggung biaya produksi, jadi royaltinya berlaku selamanya”. Ini lebih janggal lagi.

 9. Contoh: Penerbit menanggung biaya cetak/sebaran/promosi buku, tapi setelah batas eksploitasi selesai, hak eksploitasi dikembalikan.
10. Pendapat saya seputar perjanjian antara @_PakRaden_ dan PPFN semata-mata tafsiran pribadi. Salam takzim.
=-=-=-=
Informasi @_PakRaden_ di: Khrisna (081398958598) Arif (085210636336) Suryo (08156612441) Chusnato (082124379430) Amang (08990066000)
Donasi utk @_PakRaden_ bisa ditransfer ke Bank Mandiri: 157-00-0111711-9 (Arief Maulana) atau BCA: 0840382796 (Chusnato)
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.