Cuaca pagi di Depok pada Ahad tanggal 17 Januari 2008 kurang bersahabat denganku. Dingin, mendung, dan membuatku malas untuk sekedar bangkit dari tempat tidur. Tetapi aku harus segera bangun, beres-beres, dan pergi ke FLP Depok. Aku akan mengikuti pelatihan kepenulisan. Ikutan BATRE (Basic Writing Training For Beginner) angkatan VI.
Perasaanku gak karuan deh! Soalnya, meskipun aku orang Depok, tapi berkunjung ke FLP yaaa… Baru pertama kali ini! Waks! *tepok-tepok jidat* Yang bener aje? Makanya aku merasa gugup. Serasa akan kencan pertama dengan pacar. Ohix…
Setelah siap meninggalkan rumah dengan sejuta catatan (selesai pelatihan kudu nyuci nyetrika! Maklum, kalau hari Ahad jadwal jadi Juminten.. Hehehehehe), aku segera berangkat. Turun dari angkot, hujan mencolekku dengan santainya. Sebel! Aku berlari menuju FLP dengan terengah-engah. Sudah menunjukkan pukul sembilan pagi gitu lho! Kan takut telat! Eh, ternyata belum mulai. Lega!
Kemudian aku ke lantai dua, masuk ruangan mungil yang ternyata dulunya ruang kerja mbak Asma Nadia. Ada seorang perempuan setengah baya yang membuatku bengong seketika. Teh Pipiet? Bener kan teh Pipiet? Lha, kenapa juga aku mesti salah tingkah begini? Maklum, aku hanya bisa membaca karya-karyanya tanpa pernah bertemu dengannya sama sekali. Sambil menutupi rasa grogi ini, aku duduk di sebelah mbak Tami dan mbak Feti, dua teman baruku.
Setelah pembukaan acara dengan lantunan ayat suci Quran, dimulailah kencan bersama teh Pipiet. Meskipun, belum apa-apa, teh Pipiet sudah wanti-wanti tidak bisa berlama-lama karena ditunggu cucu tercinta. Yaaaa…
Pembacaan biodata singkat dan karya-karya teh Pipiet oleh panitia mengundang decak kagum. Tetap semangat meski memiliki keterbatasan yang mungkin tak akan sanggup ditanggung oleh orang lain. Bahkan oleh diriku sekalipun! Salut! Satu hal yang menyenangkan adalah humor-humor teteh yang mengalir ringan dan celetukan khas anak muda yang fasih dilontarkan benar-benar tak menggambarkan usianya yang sudah setengah abad.
Nah, sebagai orang yang berpengalaman di bidang kepenulisan, tentunya teteh punya kiat-kiat agar tulisan kita enak dibaca, atau bahkan lolos untuk diterbitkan. Dari semua penjabaran teteh, ada 2 hal yang aku simak benar, yaitu: kiat mengatasi ide yang buntu dan menghalau “jurig” (hantu, sunda) mood. Keren amat ya istilahnya?
Kedua kiat itu memang selalu aku garisbawahi di setiap awal aku ingin menulis apapun. Dari jaman aku kecil. Ternyata kiat yang dipakai teteh, persis sama dengan apa yang aku praktekkan.
Ketika teteh memberikan alamat blog teteh di MP, aku sempat nyeletuk, “Teh, MP teteh kan ada di daftar teman-temanku.” Teh Pipiet hanya manggut tak jelas. Yah, sedih deh! Kirain mau direspon hangat. Ye, ge-er! Siapa elu, An???
Nah, ketika waktu kencan bersama teh Pipiet berakhir, akhirnya seluruh peserta BATRE kudu turun lagi ke bawah untuk pengenalan anggota senior FLP lainnya.
Untuk teh Pipiet yang dirihoi Allah, lain kali aku jangan dicuekin yaaa… Hix… Karean aku siap dengan kencan-kencan berikutnya dengan teteh…