Lewati navigasi

Arsip Tag: 30 Hari Cerita Cinta

Aku masih berkutat di meja kantor. Lembur dan lembur lagi. Dua minggu ini aku selalu pulang di atas pukul delapan malam dan harus sudah di ruangan kerja pada pukul delapan pagi. What a life!

Sebuah berkas mengusik perhatianku. Ada nama Hendro Prabowo di sana. Aku penasaran. Hendro yang mana lagi ini? Kubuka berkasnya dan membaca alamatnya. Jalan Cendana nomor 9B. Dia! Ya Tuhan, dia masih tinggal di sana? Dengan siapa? Orangtuanya sudah wafat. Dia anak tunggal. Kekayaan yang pastinya berlimpah… Hanya dinikmati sendiri. Benarkah?

Aku mencoba melihat database di komputer. Ternyata Hendro termasuk pemain tender yang aktif dan (menurut istilahku) agak brutal dan nekat. Hampir 80% tender dimenangkannya. Semua bernilai triliunan rupiah. Terbesar sebuah tender rahasia yang dilansir senilai seratus triliun. Sebuah mega proyek. Aku sendiri tidak tahu apakah itu. Aksesnya terkunci.

Seorang Hendro yang bertubuh tinggi tegap, berkulit putih, pendiam, dan kurang suka bergaul. Hanya saja anehnya, relasi dia banyak sekali. Aku sering membaca namanya di media cetak maupun online. Tapi, iya itu tadi, karena dia kurang suka bergaul alias tertutup, dia tuh gak ketahuan tinggalnya di mana. Hanya orang-orang tertentu yang diberi akses itu.

**

Aku tetap melamunkan Hendro hari ini ketika sedang menunggu Rico di McD Kemang. Sore yang macet, pastinya. Hujan, pula. Aku sudah mencoba menghubungi Rico, tetapi BB dan androidnya sama-sama tak aktif.

Saat aku hendak memesan segelas Cola untuk yang ketiga kalinya (yah, aku candu minuman berkarbonasi ini sekarang), kulihat sosok yang baru kupikirkan. Dengan setengah sadar, kukumpulkan keberanian untuk menyapanya. “Pak Hendro?”

Yang disapa menoleh. Dia mengerutkan dahinya dan seketika tampak terkejut. “Tania?”

Giliran aku yang terkejut. Dia ingat! “Ah, iya. Benar, Pak. Saya Tania.”
“Sejak kapan kamu kaku dan resmi padaku?” tanyanya dengan pandangan tajam.
“Ya, saya pikir karena…” tenggorokanku seperti tercekat.
“Aku masih seperti dulu, Tania. Sama. Aku adalah Hendro yang dulu.”
“Tapi rasanya sekarang berbeda.”
“Ini kartu namaku. Hubungi aku di sini. Ini pin BB dan ini akun twitterku,” Hendro menuliskan sesuatu di kartu namanya. Rupanya tak sembarangan orang bisa mendapat pin BBnya.

Aku menghela nafas. “Terima kasih, Pak…”
“Hendro. Tetaplah memanggilku begitu, Tania,” pintanya sopan tetapi suaranya ditekan tanda tak mau dibantah.
Seseorang di sebelahnya membisikkan sesuatu.
“Oke, Tania. Aku harus pergi. Segera hubungi aku. Kita makan malam, secepatnya. Bye,” Hendro mencium pipiku dan segera berlalu.

Aku masih terpana ketika Rico menepuk pundakku. “Heh! Baru juga dicium pengusaha kelas kakap, belum kelas paus,” ledeknya sambil mencium keningku. Aku mencibir.

“Kamu tahu siapa dia?” tanyaku penasaran.
“Siapa yang gak tau dia sih, Tania. Pertanyaan bodoh!” Rico menjitak kepalaku. “Seharusnya aku yang bertanya dia itu siapanya kamu?”
“Temannya Aryo, sebenarnya. Aku kenal waktu bertemu dia di Kuta. Sekitar lima belas tahun yang lalu.”

Mulut Rico membulat. “Sebuah masa lalu? Kok aku gak diceritain sih?”
“Penting buatmu?” aku balik bertanya.
“Banget. Dia itu incaran semua perempuan, lho.”
“Kecuali aku,” sergahku.
“Termasuk kamu,” ralatnya cuek.
“Ya gaklah!”
“Ya terus kok dia bisa menciummu segitu mesranya?”
“Dari mana kamu bisa menilai itu ciuman mesra?”
“Aku ini lelaki, Tania! Aku tau dan bisa membedakan!” suaranya agak meninggi.
“Kamu cemburu,” aku tertawa kecil.
“Ngapain lelaki begituan aku cemburuin. Gak level!”

Aku tertawa. “Hey! Dia itu gay!” bisikku sambil tetap tertawa.
“Gak mungkin ah!” Rico terkejut. Iya, pastinya terkejut. Radar lelakinya tka berfungsi kali ini. Puas rasanya!
Sorry to say, it is true,” aku mengerling.”Nanti kuceritakan. Sekarang, apa yang kamu bawa dari galeri. Kanvas titipanku sudah diambil?”
“Yup, sudah. Kamu sudah memesankan aku Big Mac, kan?”

Dan kami menghabiskan senja dengan menikmati rintik hujan dan menyaksikan kemacetan dari balik meja sambil mengunyah kentang goreng.

—–

Special: yang tak pernah memikirkanku.

Aku ingat seorang teman kuliahku yang bernama Vanessa. Dia seorang penulis cerpen yang cukup produktif. Karyanya selalu ada hampir di semua majalah remaja. Bahkan satu cerbungnya pernah tembus majalah wanita dewasa. Gila deh!

Kemarin aku mendapat kabar bahwa dia baru menerbitkan novel perdananya. Keren kan? Aku langsung menghubungi Facebook-nya. Dia sangat kaget karena aku dapat menemukan akunnya. Kutulis di dindingnya, “Ya eyalah aku inget, Ness! Orang beken kayak kamu tuh gampang dicari!” Lalu kami membuat janji bertemu di coffee shop favoritnya di kantornya di daerah Sudirman.

Kami menghabiskan waktu sekitar dua jam dan aku mendapat buku pertamanya berserta sebuah kalimat, “Jangan membayangkan apa yang tak seharusnya kau bayangkan.” Agak membingungkan. Tapi aku diam saja dan memutuskan menyimpan segala pertanyaanku sampai ke atas kasurku nanti.

**

Baru membaca sampai halaman 20, aku mulai menebak-nebak apa yang sedang Nessa pikirkan ketika membuat kisah ini. Begitu lugas, apa adanya, terkesan agresif, dan seperti nyata. Wow, beginikah gaya penulisan dia? Keren juga. Tapi aku teringat tulisannya di samping halaman daftar isi.

Apakah tulisan ini… Aku tak berani menduganya, tetapi jelas semua yang tertulis di sini membuatku penasaran. Aku mengirimkan BBM padanya. Terkirim tetapi tak dibalas. Aku semakin geregetan. Kuhabiskan malam itu dengan ratusan kata yang membuat kepalaku semakin berdenyut…

**

Aku memaksa Nessa untuk menyisakan waktu sore ini, seminggu setelah aku membaca novelnya. Ia selalu menghindar. Aku yakin dia tahu apa yang akan kubicarakan. Aku tak peduli. Maka aku ada di sini.

Vanessa datang dengan wajah berat. Kulihat dia membawa seorang anak kecil. Cantik. Wajahnya mirip Ness… Sa? Aku menelan ludah. Dengan kikuk, aku mempersilakan keduanya untuk duduk. “Hai, Manis. Siapa namamu?” tanyaku mengacak rambutnya yang tergerai.
“Caca,” jawabnya malu-malu. Aku tersenyum dan mengalihkan tatapanku pada Nessa.
“Aku tak perlu menjawab apa pun, kan?” tanyanya sinis. Aku menghela nafas berat sekali.
“Terserah padamu. Apakah aku harus menyimpulkan isi novelmu dengan seorang anak kecil?” tanyaku lugas.

Vanessa Mengepalkan jemari tangannya. Seperti cemas, gugup, bingung, dan takut. Nafasnya memburu perlahan. Matanya mulai berair. Sementara Caca asyik bermain pasir dan boneka Barbienya. Aku menunggu.

Setelah hening sepuluh menit, “Tulisan itu hasil menyepiku. Di penjara, lima tahun yang lalu. Ya, aku membunuh pacarku. Papanya Caca. Alasan klise, dia tak mau bertanggung jawab.” Nessa mencibir pahit. Getir dalam suaranya.

“Aku tak pernah bertemu keluarganya lagi setelah itu. Mereka tak mau tahu juga bagaimana keadaan Caca. Aku pun tak peduli. Biar saja Caca seperti sekarang, tenang bersamaku. Toh aku tak minta makan pada mereka,” Nessa mendengus kesal.

“Sekarang?” tanyaku nyaris tanpa ekspresi.
“Aku sedang ikut kursus membuat kue. Selain tetap menjadi kontributor,” jawabnya santai.
“Kenapa aku gak tau ya?” gumamku tak yakin.
Vanessa mendengarnya. “Kejadiannya di Perth.”
Bibirku membulat. Baiklah.

“Ada satu cerita tentang seorang pria…” suaraku menggantung.
Vanessa tersenyum tipis. “Itu Rico.”
“Ah, ya! Tentu saja. Bagaimana aku bisa tak mengetahuinya?” aku mendadak kikuk.

Vanessa dan Rico pernah berpacaran. Meski hanya setahun, tetapi menjadi pasangan paling heboh di kampusnya Rico. Ah, kisah mereka dulu bak di negeri dongeng. Aku sampai iri.

“Kudengar sekarang kamu dekat dengannya ya, Tan?” tanya Nessa mengejutkanku.
“Hm, biasa aja sih. Kenapa?” aku berusaha bersikap wajar.
“Ya gak papa juga. Dia masih seperti dulu. Hangat dan penuh perhatian. Sayang kalau pria sebaik dia dianggurin,” Nessa tergelak.

Caca mendekati Vanessa dengan manja. “Mommy, i am hungry. Can we go to Burger King now?”
“Walah, makanannya Burger King? Jangan sering-sering, ah!” aku terkejut.
“Hahaha, gak kok. Sebulan sekali aja,” Nessa mencium kening Caca dan mengajakku untuk bergabung makan dengan mereka. Aku mengangguk.

Sore yang hangat. Melihat Caca memakan burgernya sampai belepotan itu menyenangkan. Tawa Nessa yang lepas seolah tak pernah menyiratkan duka dan luka yang sangat dalam itu. Aku mencoba masuk ke dalam dunia masa lalunya. Kupejamkan mata sejenak.

Aku seperti hanyut dalam pusaran hitam yang berputar cepat dan menyedot segala kebusukan tanpa ampun. Mendadak nafasku sesak. Sekuat tenaga kubuka mataku dan menemukan taman surgawi di hadapanku. Caca menyuapi Nessa penuh kasih. Anak yang baik.

Tak terasa aku menangis. Kini, aku merasa lemah. Aku yang mendadak ketakutan. Aku tak mungkin sekuat Nessa bila aku ada di posisinya. Tetiba aku menggigil. “Tante kenapa?” tanya Caca menyadarkanku. Aku terhenyak.
“Hm? Apa, Sayang?”
“Ah, Tante! Jangan melamun dong! Itu burgernya masih utuh. Kalau gak mau, biar Caca kasih buat pengemis aja,” gerutunya menohok dadaku.
“Caca!” tegur Nessa sambil melotot.
“Gak papa, Nes. Aku yang salah. Caca anak yang cerdas. Kamu beruntung memiliki permata sebaik dia. Jaga dan lindungi dia sebaik kamu menjaga dirimu sendiri.”

Vanessa mengangguk mantap. Satu lagi lembaran hidup yang kubaca dan kunikmati prosesnya.

—–
Special: Vira, si Lajang Cantik ;)

Rani mendekatiku dengan ragu. Aku sedang sibuk dengan tumpukan berkas yang harus dikirim segera melalui kurir sore ini. Sudah berapa kali aku salah membuat invoice. Sinting! Kepalaku pecah konsentrasi. Butuh kopi. Aku memanggil Paijo dan meminta kopi hitam. Lalu kulihat Rani.

Gadis berusia 23 tahun itu tampak pucat. Aku mengangkat alisku dan mencoba tersenyum. “Rani?”
“Mbak Tania, sore ini setelah pulang kerja ada waktu gak?”
“Waduh, aku gak tau ini selesai jam berapa, Ran. Ada apa nih?”
“Kutunggu deh. Gak papa,” desak Rani. Aku mencari sesuatu di bola matanya.
“Nginep di tempatku yuk? Mau? Kita makan malam dulu di Bulungan. Gimana? Kostanmu jauh kan, ya?”
“Iya, Mbak. Di Pluit. Beneran gak apa-apa nih kalau aku nginep?” mata Rani mengerjap lucu.
“Oke, kuselesaikan dulu kerjaan ini ya? Nanti tunggulah aku di Coffee Bean. Kamu boleh pesan duluan. Aku sepertinya agak lama, ya?”

Rani mengangguk dan berlalu ke mejanya. Badannya ringkih. Kutahu dia baru saja sakit dan absen dua minggu. Aku kembali larut dengna pekerjaanku.

**
Ketika makan malam dengan menu ayam bakar, Rani mulai menggumam. “Rani, bagaimana kabar Ibumu di Pekalongan?”
“Alhamdulillah baik, Mbak,” jawabnya sumringah.
“Masih aktif membatik?”
“Sudah mulai jarang. Sekarang Ibu yang ngatur penjualannya. Alhamdulillah sudah mulai sering dapat order dari Taiwan dan Meksiko, Mbak.”
“Wuih, keren dong! Syukurlah kalau begitu. Semoga tambah sukses dan bisa menjadi barometer industri rumah tangga yang mendunia. Ngiri deh!”
“Aduh, Mbak bisa aja deh. Terlalu berlebihan ah!” Rani salah tingkah.

Aku tertawa. Rani ini cantik dengan model jilbabnya yang unik. Nada suaranya yang pelan membuat orang yang baru pertama mengenalnya seperti harus memakai alat bantu dengar. Oh, itu terlalu berlebihan ya? Baiklah, gak kok. Tapi memang cantik. Kenapa masih.. “Kapan mau ngenalin pacarmu ke aku?” tanyaku menggodanya yang membuatnya malah tersedak.

“Uhuk! Aduh… Uhuk! Euh, belum ada kok. Ehm, beneran!” jawabnya gugup. Agak lama hening, kemudian Rani berbisik, “Ada sih, Mbak, yang membuatku suka saat ini.”
“Wow! Siapa? Orang mana? Kerja di mana?” tanyaku kalap.
“Mbak!” cubitnya di pinggangku.
“Aw! Eh, maaf. Masa segitu aja kamu malu? Oke, kita cerita di tempatku aja yuk? Udah selesai kan makannya? Beli kacang kulit dan pizza dulu ya buat ngemil sambil rumpi?”

Kami beranjak dari tempat makan malam. Sepanjang jalan, tanpa rencana, aku menceritakan tentang masa laluku yang pernah menjalin kasih dengan seorang duda. Entah mengapa aku alirkan cerita itu pada Rani. Kulihat wajah Rani menegang. Kuurungkan niat melanjutkannya.

**

Di kamar, aku dan Rani sudah mandi dan memakai daster. Kami saling mentertawakan. “Ahahaha, ternyata Mbak begini aslinya?”
“Hyah, kamu sendiri ternyata gitu?”
“Yah, sudahlah. Mari kita menggalau,” Rani merebahkan diri di kasur.
Aku bengong. Galau? Sejak kapan Rani akrab dengan kata itu?

Dan dimulailah cerita itu…

Rani ternyata sedang menjalin hubungan dengan seorang pria yang usianya 10 tahun lebih tua darinya. Duda beranak dua. Bekerja di perusahan BUMN dan memiliki tiga usaha waralaba. Mantan istrinya meninggal. Mereka bertemu tiga tahun lalu pada resepsi sepupunya Rani.

Oh ya, nama pria itu Burhan. Orangtua Rani tidak setuju karena sudah menjodohkan Rani dengan sepupunya sendiri. Dan ternyata, Burhan pernah berpacaran dengan tantenya Rani ketika masih SMA. Pernah menghamilinya pula. Itu yang menyebabkan orangtua Rani menlak mentah-mentah.

“Tapi kan setiap orang pasti berubah, Mbak. Aku percaya Mas Burhan sudah berubah. Dia kan punya dua anak perempuan, Mbak,” Rani membela Burhan dengan emosi. Aku menghela nafas dan tersenyum tipis.

“Sudah cukup kan dia mendapat hukumannya? Istrinya meninggal, anak pertamanya tuna netra, dan anak keduanya mengidap kelainan jantung. Itu kan berat, Mbak,” Rani mulai terisak.

“Aku mencintainya, Mbak. Juga masa lalu dan anak-anaknya. Aku ingin mendampingi dia, Mbak,” ujarnya dengan nada ditekan. Berusaha meyakinkanku.

Kugigit pizza vegetarian favoritku. Kucoba mencerna setiap kalimat Rani. Harapannya, ketakutannya, kebahagiaannya, kekuatannya, dan doanya. Kulihat matanya yang berkilat marah pada dirinya sendiri. Ia merasa lemah dan bingung. Ia menatapku penuh harap.

“Kamu mau aku gimana, Ran?” tanyaku bingung.
“Bantu aku meyakinkan Ibu, Mbak.”
What? Eh! Aduh, Ran! Kok gitu?” aku gelagapan.
“Mbak, aku gak tau harus bicara pada siapa lagi. AKu gak tau harus minta tolong pada siapa lagi. Aku gak tau…”
“Stop! Stop!” aku memotong kalimatnya. “Sabar, Rani. Segala sesuatu akan berjalan dengan sendirinya. Melalui jalan yang telah ditentukan Tuhan. Rencana Tuhan selalu lebih indah.”
“Aku tahu itu, Mbak,” sergahnya tak sabar.
“Rani,” aku meraih tangannya. “Tetaplah perjuangkan apa yang sudah kamu yakini. Minta padanya juga untuk melakukan hal yang sama. Yakinkan dia bahwa kamu serius. Ingat, dia tak semata mencari istri. Ia pasti lebih mencari seorang ibu yang dapat memberi pelukan terhangat pada kedua putrinya.”

Mata Rani mulai berkaca. Sedetik kemudian tumpahlah telaga bening itu. AKu memeluknya erat. Membiarkan dia menangis hingga terlelap. Perlahan, kubantu dia tidur dengan nyaman. Kuselimuti gadis manis itu.

Aku keluar kamar dengan perlahan dan menuju kamarku sendiri. Aku menghela nafas. Tuhan, tolong bantu Rani.

——

Special: Kiki, rikues soal duda yang menjadi sebuah flash fiction. Gak papa ya? Atau kudu pembahasan ilmiah? *halah*

Aku bertemu lagi dengan Rico di Senayan. Dia sedang berolah raga sore. Lagi-lagi sendirian. “Rico!” panggilku dari tempat parkir mobilku. Dia melambaikan tangannya dan memintaku mendekatinya.

Aku menghampirinya dan memeluknya erat. “Ih, mau aja deh kamu meluk aku yang keringetan gini?” ledek Rico.
“Lah, aku juga baru selesai lari tiga putaran kok,” jawabku rada sewot.
“Ahahaha, iya deh! Mau diet? Udah kurus gitu!” Rico mendelik.
“Jelek deh!” aku melempar handuk kecilku tepat ke wajahnya.
“Udah ah! Laper. Makan yuk? Tapi jangan bilang di Plasenta atau di Sensi atau di fX deh. Ngemper aja yuk? di Blok M?”
“Yuk deh! Kamu naik apa tadi ke sini?”
“Dianterin adikku. Kebetulan ada kamu, jadi aku bisa nebeng pulang,” ujarnya kalem. Aku mencibir.
“Maumu! Yuk ah!”

**

Kami menikmati gultik di Bulungan. Nikmat. Dengan cerita dan tawa Rico, aku merasa lebih nyaman hari ini. Ah ya, aku lupa bilang kalau tadi siang Aldo meneleponku. Ya, bahwa dia hanya cocok denganku di ranjang. Tidak lebih. Aku mengerti. Tak perlu menangis. Hanya merasa terhina. Itu saja. Kupejamkan mataku dan mengingat bagaimana aku bisa jatuh ke dalam pelukan Aldo. Tanpa cinta. Bodohnya aku!

“Tania?” Rico mengagetkanku.
“Hm?”
“Kebiasaan jelek banget deh! Ngelamun mulu! Siapa yang kamu pikirin? Aku atau Aldo?” tanya Rico dengan mulut penuh.
Aku mencibir sebal. “Idih! Gak dua-duanya!”
“Atau si Faisal? Katanya dia udah nyatain cinta ya sama kamu? Hayoooo, gak bilang-bilang ya?” Rico mendekatkan wajahnya padaku. Aku terkejut.
“Wa! Aduh! Bilang apa? Heh, emang ketemu Faisal di mana?”
“Gak ketemu tuh. Gak bilang apa-apa pula. Aku kan banyak mata-mata di mana pun. Taulah kalau ada gosip yang menerpamu. Ahahaha…”

Aku manyun. Hm, masalah Aldo dan gosip tentang Faisal membuatku sumpek. “Rico, aku mau ke Blok M Square. Malam ini katanya ada Endah N Rhesa manggung. Temenin yuk?”
“Ogah. Aku gak suka ke mall. Kamu tau itu. Sakit kepala ngeliat keramaian para hedonis itu. Kalo mau, kita ke Little Baghdad Kemang. Ber-shisa ria. Belum pernah, kan?”
“Ogah juga. Mending kita nonton film deh.”
“Ogah! Ya udah, kita gak sepakat. Pulang masing-masing deh! Pusing! Aku gak mau bertengkar,” suara Rico agak meninggi.

Aku mendelik tersinggung. “Ya udah dong gak usah bentak aku kayak gitu!” aku mengelap mulutku dengan tergesa dan menghabiskan minumku. Kemudian aku menuju kasir dan membayar makanan. Setelah selesai, “Hei Coki! Aku udah bayar makananmu! Aku pulang!” kuteriakkan nama panggilan Rico khusus dariku. Rico tak bergeming dan tak menoleh.

**

Sudah seminggu aku tak mendengar kabar Rico. Kenapa aku khawatir ya? Ah, cowok macam dia sih gak perlu dipikirin. Udah gede! Udah bisa ngehamilin cewek kok! Aku ngedumel dalam hati sambil mempercepat langkah menuju Sarinah. Tetiba langkahku terhenti. Seseorang mencekal tanganku dan aku nyaris jatuh karena limbung. Aku hendak melawan dengan menendangnya tetapi kulihat wajah Rico yang tegang sebagai jawabannya.

Aku memicingkan mata. “Coki? Rico? Heh!” Dan kemudian Rico memelukku erat hingga semua yang ada di lantai dasar Sarinah memandang kami aneh sambil berbisik. Rico semakin mengeratkan pelukannya jika aku berontak.
“What’s going on? You hurt me!”

Rico mengendurkan pelukannya dan segera menyeretku dengan kasar. Aku protes pun tak akan membuatnya berhenti. Entah berapa kali aku nyaris tersandung.

Kami sampai di restoran bakmi favoritku. Aku kebingungan. Dia hanya menyuruhku duduk. Kemudian dia memesan makanan dan minuman kesukaanku. Juga pangsit goreng. Jadi ingat ketika kami pertama makan malam di sini.

Aku memandang Rico semakin bingung. Lalu kudengar dia berbicara. “Tania, maaf bicara dan kelakuanku yang kemarin itu. Aku sungguh menyesal. Aku emosi. Aku hanya gak suka ke mall. Gak suka keramaian. Aku memang rada kesel sama orang yang suka ngajak aku ke mall. Gak ada kerjaan lain ya? Buang uang kayak gitu. Nyarinya setengah mampus, dihabiskan kurang dari tiga jam.”

Aku hanya diam. Gak ngerti arahnya mau ke mana percakapan ini.

“Tania, aku mau lebih sering menghabiskan waktu bersamamu. Ngapain aja. Pokoknya bareng sama kamu. Tapi dengan satu syarat, jangan ke mall. Aku gak suka keramaian seperti itu.”

Aku semakin pusing. Aku menggeleng tak mengerti.

“Kamu gak perlu mengerti sekarang. Aku memang tak seromantis Faisal, tapi aku yakin bisa lebih membahagiakanmu ketimbang dia, apalagi dibanding si bangsat Aldo,” ujarnya penuh emosi.

Aku mencoba tersenyum. Sekarang aku paham. Rico yang urakan ini hatinya selembut bayi. Sensitif. Kusuapkan sebutir bakso padanya dan berkata, “Terima kasih, Ciko. Let it flows. Aku masih ingin sendiri, sebenarnya.”

Rico tersenyum tipis. Aku yang meringis.

—–

Special: Kamu, yang membuatku ‘terpaksa’ menulis kisah fiktif ini demi sebuah kata “maaf”

Namanya Faisal. Usianya baru 35 tahun. Belum menikah. Lulusan terbaik Kedokteran universitas ternama di Jakarta. Hobi utama: panjat tebing. Hobi sampingan: mak comblang. Iya, entah sudah berapa pasang yang berhasil menikah karena jasanya. Jadilah panggilan dia: Cupid. Halah!

Aku mengenalnya ketika menjadi tetanggaku di Bogor. Dia pindahan dari Semarang. Logat Jawanya medok sekali. Tetapi dia sangat baik dan ramah. Yang terpenting adalah, masakan ibunya enak sekali! Wow, untuk ukuranku yang doyan makan enak, hasil dari dapur Tante Ningrum itu level sepuluh alias top markotop. Hanya bisa disaingi oleh Mamaku. Hehehe…

Aku mengingatnya sebagai orang sok sibuk. Soalnya, dia tuh banyak banget kegiatannya. Waktu SMP, dia ikut Pramuka, klub musik, aktif taekwondo, dan anggota Karang Taruna di lingkungan tempat tinggal kami.

Saat SMA, Faisal aktif di OSIS sebagai Wakil Ketua, Pramuka, anggota panjat tebing dan sering mendaki gunung, mulai punya grub band, dan menjabat sebagai Humas di Karang Taruna.

Pertanyaannya adalah: Pacarannya kapan ya mas bro? Dan Faisal selalu tertawa lepas bila mendengar pertanyaan itu. “Pacaran sih bisa kapan aja. Yang penting kan kualitas waktu ketemunya, bukan berapa lamanya waktu ketemu. Kusut ya? Biarin deh.”
“Sok ngartis banget dah!” protesku ketika sedang mempersiapkan acara tujuhbelasan di lapangan voli, lima tahun silam.
“Biariiiiinnnn…. Nape? Bolehnye sirik deh luuuu,” Faisal menjawil daguku. “Jadi pacar gue aja yuk, Tan?” matanya mengerling genit. Aku mencibir.

**

Sekarang aku sedang duduk di ruang tamu rumah orangtuanya. Bersama para ibu pengajian mengadakan doa selamatan bagi Mia, adik Faisal yang sedang hamil tujuh bulan. Aku datang mewakili keluargaku karena rumahku yang sekarang sudah pindah ke Bekasi. Ketika mendengar kabar dia ‘dilangkahi’ adiknya, kuledek dia habis-habisan, “Wakakaka, si Cupid ketinggalan kereta!”

Ketika aku melayangkan pandangan ke luar rumah, kulihat Faisal memberi kode padaku untuk keluar. Aku kebingungan. AKu berada di tengah ibu-ibu yang sedang kasak kusuk menjelang pengajian. Sulit rasanya untuk mencari celah. Faisal menunjuk jendela besar di belakangku dan aku melotot. Mulutku mengucapkan kata ‘gak mungkin’ dan dibalasnya ‘coba dulu!’ dengan mimik memaksa. Kugaruk kepalaku yang tak gatal.

Akhirnya, dengan memakai topeng ‘tebal muka’ dan nyengir cuek pada beberapa ibu di dekatku, kulompati jendela berdinding rendah dan mendarat sempurna di halaman samping. Nyaris menabrak pohon kaktus. Gak banget, kan?

Aku langsung mendekati Faisal dan protes, “Lima senti lagi muka gue kecium kaktus dan lu harus tanggung jawab!”
Faisal tergelak. “Ya deh, kita ngebakso sekarang yuk? Di pangkalannya Mang Engkis.”
“Wow, dia masih jualan? Rasanya gak berubah kan?”
“Ayo,” Faisal menggandeng tanganku menjauh dari rumahnya.

Sambil mengunyah bakso, Faisal mulai mengoceh tentang kebutuhan ruang prakteknya. “Gue mau pindah ah. Gak hoki kayaknya di tempat sekarang. Lu ada ide gak di mana gituh?”
“Ya lu maunya di mana? Lu kan spesialis kebidanan, rasanya di mana aja juga oke.”
“Di hati lu aja deh,” selorohnya cuek.
Aku nyaris tersedak. “Heh? Hati gue? Sempit!”
“Iya gue tau! Dah ada si Aldo kan? Lu gak bakalan awet sama dia. Kalo gak gue comblangin, temen-temen gue gak ada yang langgeng ampe nikah,” ujarnya sok tahu.
“Blagu lu!”
“Emang.”
“Sombong!”
“Biarin!”
Kuambil sebutir baksonya dan dengan cuek kumakan.
“Lu ambil bakso gue berarti mau ya sama gue?” tanyanya terlalu pede.
Kutinju pipinya. “Makasih!”
“Kita liat aja nanti, Tan. Lu bakalan kangen sama gue. Soalnya gue mau ke Paris dua tahun. Ngapain? Cari cewek buat jadi calon bini gue!”
“Lu bego ya? Jauh-jauh ke Paris cuman buat nyari calon bini? Bukan nyari bini?” aku sok meralat kalimatnya.
“Ih, suka-suka gue dong! Kok situ yang protes? Gak suka ya gue cari cewek? Cemburu ya?” Faisal tertawa.
“Idih!” aku kehabisan kata-kata melawannya.

Ping! Hm, Aldo. Aku melirik Faisal. Dia malah memanasiku dengan berkata, “Bilang aja lu lagi sama gue. Penasaran sama reaksinya.” Anehnya aku menurut saja. Sepuluh menit tak ada jawaban. Faisal tersenyum penuh kemenangan.
“Laki-laki emang gitu, Tan. Taruhan sama gue, dia lagi selingkuh!”

Aku menelan ludah. Kemudian kubaca status Aldo di Facebook. “Tak peduli sedang bersama siapa pun kamu saat ini. Kutahu, kita tak akan pernah selamanya.” Dan kulihat ia mengganti “In relationship” menjadi “It’s Complicated”. Aku menelan ludah. Faisal yang sedang menghabiskan sepiring siomay memperhatikanku dengan cueknya.

“Dugaanku gak meleset kan? Nih, makan!” Faisal menyodorkan sepotong tahu. Tanpa berpikir panjang, kumakan tahu itu dan memanggil tukang siomay.
“Bang, satu dong! Jangan pakai pare dan kol, ya!” Faisal mengacak rambutku dan meneruskan makannya.

Aku gamang. Kusamber status Facebook-nya atau diam saja. “Diemin aja, Tan. Orang kayak dia kalau ditanggapi malah makin jadi. Dia lupa betapa ruginya dia melepaskanmu,” ujarnya dengan santai.

Aku menutup wajahku dan menahan sesak yang menyelimuti dada.

——–

Special: Taufik, dokter cab.. dengan tingkat percaya diri tinggi :D

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.