Today Is…
Coretan Pena
-
Penyimak
Follow Me
- RT @JamilAzzaini: Sulit? Itu karena pikiranmu sempit. Gampang? Itu karena pikiranmu lapang 3 minutes ago
- boleh ikutan gak, Bun? RT @helvy: Sedang memikirkan bikin buku bareng @sahabathelvy. Ada usul? :) 4 minutes ago
- *lempar bakiak* RT @qqoctora: Caca cantiiikk bangeet. Persis cantiknya kaya bundanya... Hehehe makasih timpukannya :-P http://t.co/FFPD2nVG 9 minutes ago
- @raravebles \(^o^)/ baiklaaaahhh 13 minutes ago
- @IndahWardhani #eeeaaa :p 13 minutes ago
Kumpulan Pena
Pena Kecil
-
Pencarian Pena Tertinggi
Arsip Kategori: Cerita Cinta
And you too, Dad!
Entah mengapa akhir-akhir ini aku sering merasakan bahwa Mama dan Bapak ada di rumahku. Dekat sekali denganku. Rasanya aku ingin memeluk mereka. Jelaslah tak mungkin…
Ketika dengan gemetar aku berbisik lirih pada Allah, ada kehangatan yang menyelimuti. Hangat yang biasa kurasa saat kecil dulu. Damai. Tenang. Sesekali aku merasa Mama seperti sedang menangis. Kemudian aku merasa Mama tersenyum dan mengangguk. Entah apa maksudnya.
Bapak… Yang pernah kusakiti hatinya… Hingga saat ini rasa bersalah dan menyesal itu tak jua bisa hilang. Setiap ingat Bapak, rasanya nyesek. Sakit banget. Wajah Bapak yang pias, mulutnya yang bergetar saat bicara, dan matanya yang memerah menahan tangis itu masih melekat erat dalam ingatanku. Durhakanya aku… Memohon pada Allah agar Bapak mau mengampuniku seolah terlihat mustahil. Hingga suatu saat yang entah kapan, aku memimpikan Bapak tersenyum padaku. Kaget. Sungguh aku tak percaya.
Saat aku menulis ini, aku merasa bahwa Mama dan Bapak ada di dekatku. Maka ingatanku kembali pada saat kecilku yang manja. Ah, rindunya aku menikmati saat-saat ‘bertaruh’ ketika Persib bertanding melawan Persebaya di tahun 90an, makan siang di luar sambil berdebat tentang nilai ulangan yang anjlok (halah), dan menemani Mama di rumah sakit sambil menggosipkan dokter ganteng (haiyah).
Saat ini, yang kurasa adalah restu mereka akhirnya kudapat. Tentang apa? Segalanya. Semua yang kubutuhkan. Perlahan, aku merasa pintu ridho itu terbuka. Setelah sembilan tahun aku memohon doa yang sama setiap hari… Aku menyadari sulitnya memohon ampunan orangtua yang telah aku durhakai semasa hidupnya. Allah telah menghukumku dan aku sudah terbebas dari hukuman duniawi itu. Tak henti aku bersyukur. Tak ada lagi yang bisa kuamini selain janji tak akan mengulangi kesalahan yang sama. (Untuk hal ini, para sahabatku pasti mengerti tentang apakah ini
)
Seandainya saja mereka masih ada di sampingku, Yaa Allah… Betapa aku ingin sekali mencium tangan dan kening mereka sepenuh cinta seperti dulu…
Setelah orang tua meninggal dunia banyak amalan yang bisa kita lakukan untuk berbakti kepada keduanya, di antara lain:
1. Mendoakannya
Mendoakan agar mereka diampuni, dirahmati, diberi kemuliaan disisi-Nya, dan dilapangkan di alam kubur.
2. Menunaikan janjinya
Apabila kita pernah mendengar orang tua mempunyai janji atau niat untuk melakukan suatu kebajikan, namun belum terlaksana karena maut menjemputnya, kita sebagai anaknya dianjurkan untuk merealisasikan niat baiknya itu. Misalnya, mereka pernah berniat mendirikan panti asuhan, sebelum niat baik ini terwujud, Allah swt. memanggilnya, sebagai wujud bakti anak terhadap orang tua adalah merealisasikan niat baiknya tersebut.
3. Menjalin silaturrahim
Sebagai makhluk sosial orang tua kita pasti memiliki sejumlah kerabat, wujud bakti kepada mereka adalah dengan menyambung silaturrahim dengan orang-orang yang biasa bersilaturrahim dengannya, terutama silaturrahim dengan kerabat dekat orang tua.
Sumber quote: di sini
Hati ini terasa ringan sekarang. Terimakasih yaa Allah… Meski sekarang agak kesulitan untuk menjalin silaturrahim dengan kerabat orangtua (rata-rata ya sudah wafat juga), tetapi dengan yang masih hidup insya Allah terjaga…
Aku cinta kalian, Ma, Pak!
Jika anda tidak tahu kemana kaki melangkah, maka setiap simpang akan menarik anda. #LifeSharing ~ Bayu Gawtama
Nice and inspiring quote.
Mungkin bisa dikatakan terlambat untukku menetapkan langkah dan tujuan berdasarkan naluri dan logika. Sifat manjaku yang sulit diubah membuatku kehilangan delapan tahun nyaris tanpa kontribusi apa pun bahkan terhadap diriku sendiri. Tetapi alhamdulillah, aku tak terlambat mengambil hikmahnya. Kekuatan yang hadir di titik nadir tahun lalu adalah titik balik satu masalah yang sudah selesai
Thank You Allah!
Saat ini, titik nadir kedua belum mendapatkan lampu hijau dari Allah untuk dituntaskan. “Belum saatnya dan masih harus berjuang. Tidak boleh berhenti dan menyerah.” Meski aku tahu dan instingku tak mungkin salah, waktunya sebentar lagi.
Ketika semua mewujud sempurna dan indah pada waktu-Nya. Tanpa air mata, insya Allah…
Ada satu ruang hampa yang terbengkalai di sudut hati. Hm, entah bagaimana dan mengapa, di sana enggan disinggahi atau diisi selain yang ditunggunya. #kamu, yakinkanlah aku untuk meyakinkanmu bahwa kita memang dipertemukan untuk menggenapkan segala rasa dan asa. Maukah kamu?
Kini aku tahu ke mana kakiku akan melangkah. Menujumu. Dulu, aku tak tahu ke mana harus pulang. Kini, aku tahu bahwa tempatku kembali adalah kamu.
Kini, ketika kamu sedang mengembara mencari eksistensimu, biarlah aku yang menunggumu pulang. Aku tahu, tempatmu kembali hanya padaku. Jaga dirimu baik-baik selama jauh dariku.
~dalam doa, asa, dan mimpi yang satu~
PS: postingan galau ini disponsori oleh Nyai Endit yang sedang siaran saat ini. (Sabtu, 25 Feb, siang hari) ^_^







