Lewati navigasi

Arsip Kategori: Big Problem

*manggut-manggut sambil menahan nyeri punggung*

Pindahan dari Depok ke Bandung (nyaris) mengerjakan semuanya sendirian. Sakit kepala? Pasti. Sakit badan? Jangan ditanya. Tapi sedikit lega karena satu masalah sudah terurai.

Benar terasa olehku bahwa janji Allah itu sangat tepat waktu :) Ketika aku mengurai satu per satu di atas kertas… Aku tertawa kecil. Tak ada yang kebetulan. Tak ada yang meleset, tak ada yang dikecewakan, tak ada yang salah. Semuanya pas. Waktu penjualan rumah Depok, harga yang disepakati, siapa pembelinya… Begitu pula dengan rumah Bandung. Rumah yang aku survey sambil menyanyikan lagu “11 Januari” dari GIGI #uhuks ;) Harga yang sesuai, lokasi yang pas, tetangga yang menyenangkan (semoga demikian adanya), dan krucilku langsung dapat teman… Ah, indahnya :)

Juga ketepatan waktu untuk move on dalam segala hal… Ini di luar dugaanku. Sungguh. Sangat tepat. Kaget dengan perubahan suasana hari secepat ini. Ketika aku meminta, Allah memberi. Adakah yang harus kusesali dan kutampik?

Oh ya, mengenai kegiatan moving hari ini tuh dimulai dengan kerusuhan seharian kemarin packing barang-barang pibadi.  Sambil berharap dan ngayal dibantuin sama patjar (ah elah!), aku asal memasukkan segalanya ke dalam koper. Pusing duluan.

Kemudian hari ini, pukul 8.30 pagi tim dari Mandiri Moverindo sudah datang. Keren, dengan jumlah personil 7 orang, mereka dengan sigap langsung membereskan semua barangku tanpa sempat memberiku waktu untuk berpikir. “Ini dibawa, Bu?” “Ini gimana?” dan semua pertanyaan yang harus aku jawab dan awasi sambil berteriak pada krucil yang tak bisa diam.

Estimasi yang mereka berikan adalah 6 jam pengepakan. Mulai 9 pagi sampai 3 sore. Ternyata pukul 1 siang sudah beres semua. Keren! Dan aku nyengir mendapati (mantan) rumahku yang berantakan kebanyakan kertas dan buku tak terpakai lagi. Ternyata aku dan adikku sama aja: penimbun segala sesuatu yang bisa ditulis. :lol:

Cuman ribetnya banyak aja tetangga yang datang dan bertanya ini itu. Haduh, aku lagi gak bisa mikir, jadi tadi tuh rada geregetan gitu deh. “Pindahan sekarang?” “Kok gak bilang?” “Kok mendadak?” “Ada warisan gak?” “Ada yang ditinggal, gak?” “Berapa dijual?” *muka super datar dan tegang* Mau teriak rasanya. Aku bukan tipe yang suka digerecokin ketika sedang dalam keadaan hectic dan crowded. Plis deh :(

Rencananya aku mau naik bus MGI untuk nyusul. Tapi kemudian tim Mandiri meminta aku untuk ikut dengan mereka agar lebih mudah. “Daripada tunggu-tungguan, Bu. Kalau barang dateng duluan gimana?” tanya salah seorang dari mereka. Iya juga sih.. Mayan ngirit ongkos. Ahahaha… :D  Selama di perjalanan, aku tertidur lumayan nyenyak dengan beberapa kali terbangun. Maklum krucilku rempong. :D

Tiba di rumah baru pada pukul 5.30 sore. Alhamdulillah. Disambut oleh tetangga yang langsung melihat dengan terpana segala kehebohan ini… Hehehe, maaf yaaaa… :)

Kemudian kegalauan itu dimulai. Betapa aku akhirnya sadar bahwa aku akan membereskan semua ini sendirian… Aaaaakkkk…. Dimulai dari kepanikan mencari handuk, pasta gigi, baju ganti, dan diaper Salman. Alhasil, jempol tangan kiri terkena gunting tajam. =,=’

Aku pun baru menyadari, 50% dari tumpukan dus yang membuat mataku sakit ini berisi buku-buku… Oh Tuhan, betapa ternyata aku memang kutu buku sejati. :D Jumlah buku lebih banyak dari baju :lol: Parah ya? Juga di-sms oleh Adie bahwa ketinggalan 1 lukisan orangtua yang ada di gudang… *tepok jidat nyamuk* “Iya. Gede dan berat.” Cakeeeeeepppp….

Jadi, selesai untuk hari ini (eh, Jumat maksudnya. ini nulis udah masuk Sabtu). Terima kasih tak terhingga pada Sang Maha Hidup yang telah membuat skenario terhebat :)

BANDUNG, AM HERE NOW!!! LOVE YOU MORE AND MORE!!!

Geeeezzzz…. *inhale exhale*

Can’t think anything clearly anymore.

Ah ya, tentunya aku harus sadar satu hal: lahir ke dunia ini sendirian. Tentu mati pun kelak sendirian. Lantas, kenapa harus pusing kalau mengerjakan semuanya sendirian selama hidup???

Manusia makhluk sosial. Memang. Tapi saking memiliki jiwa sosial malah jadinya sok sibuk. Nyinyir atau sarkas? BOTH!

Ya, aku sedang berusaha tenang ketika memikirkan kepindahan rumahku. Pengurusan surat rumah, transport, pajak, berurusan dengan pemerintahan daerah, packing all the fucking stuffs, ngurusin anak-anak (yang nyaris terlantar karena aku sibuk sendiri), kerjaan yang keteteran (utang tulisanku numpuk ya bo!), dan segala hal remeh-temeh lainnya.

Mau nangis? Bukan mau lagi. Saat menulis ini pun aku sedang menangis. Bukan karena aku cengeng, tapi karena nahan sakit kepalaku yang teramat sangat. Vertigo aku kumat. Rasanya mau pecah. Ditambah teriakan anak-anak berebutan mainan. Cakep deh!

Aku gak minta apa-apa sama Allah. Hanya dua hal: aku diberi kekuatan fisik dan pikiran selama mengerjakan semua ini, ditambah dengan kesabaran menghadapi anak-anakku. Fokusku terbelah. Anak-anak sih sebenarnya tak masalah. Tapi akunya yang have guilty feeling more than anything… *sigh*

Adikku sendiri pekerja kantoran yang tak mungkin bisa membantuku mengurus kepindahan rumah ini. Aku maklum dan aku berkata padanya bahwa semua baik-baik saja…. Well, i hope so.

Kalau saja aku tak punya rasa malu dan iman (meski tipisnya minta ampun), aku sudah memaki dunia dan seisinya. Hah, ini memang kelemahanku yang manja dan cengeng.

Pada akhirnya aku setuju dengan perkataan kangmas Robert, idolaku yang ganteng:

Apa pedulinya orang-orang dengan apa yang aku lakukan? Emang masih ada yang peduli? (langsung digampar para sahabat dan juga… patjar :D ) Hihihi, pernyataan yang mengundang omelan tujuh hari tujuh malam. But anyway, aku ingin membuat para sahabatku bangga bahwa aku bisa menyelesaikan semuanya hampir sendirian (kalau campur tangan Tuhan sih itu gak masuk hitungan karena pasti adanya). Meski akhirnya aku marah-marah sambil menangis, mereka tahu bahwa aku memiliki keterbatasan. Setidaknya demikian.

Terima kasih untuk Sary, Ve, Kiki, Danny, Ichy, Nta, Saidah, Ndah, Vei, Alfa, Indra B7RU, Zul, Irfan, kang Wawan, kang Kipow, dan kang Sona untuk segala bantuannya baik moril dan materil sampai detik aku menulis ini. Doa kalian sungguh berarti saat aku membutuhkannya. Tanpa kalian, aku tak akan sekuat ini…

Allah, give me Your strength… More…

Aku kembali menangis.  Hampir tak tahu harus bagaimana. Diam saja pun tak menyelesaikan masalah. Ternyata aku tak sekuat yang kupikirkan selama ini.  Aku bukanlah seorang fearless woman sejati. Masih terlalu banyak ketakutan yang menghantui dan memenuhi kepalaku hingga mau meledak rasanya. Hiperbolis? Bodo!

Selama 12 tahun aku berulang kali melakukan hal dungu yang tak seharusnya, tetapi mengapa tetap kulakukan? Keburukan yang semata 100% hasil kerja otakku tanpa ada ketetapan Allah, begitu? Ketika sebenarnya hati kecil sudah memberi sinyal waspada dan menolak, kemudian pikiranku malah memutuskan sebaliknya. Akhirnya, kekacauan selama satu dekade menghancurkan masa depan tiga orang: adikku dan kedua anakku. Tolol kok dipelihara sih, An?

Sampai di titik akhir aku meminta sesuatu pada Allah. Mungkin, permintaan ini sangat emosional. Tapi kok ya rasanya tak ada yang lebih pantas. Aku meminta pada Allah untuk menyepi. Sendiri. Begitu saja.

~ketika hati dan pikiran tak lagi mampu berbuat~

Entah apa yang harus aku tulis di sini. Tapi lagi-lagi aku ingin menangisi sesuatu yang tak penting. Oh ya, tentu saja tak penting bagi orang lain. Tidak bagiku. Penting, ya… Penting! Sangat.

Tentang sebuah hati yang mengapung di tengah samudra luas. Terik mentari, gelombang besar, ancaman hiu pemangsa, dan kelelahan mencari daratan… Hanya keajaiban yang bisa menuntun sepotong hati itu agar selamat dalam pencariannya…

Aku merasa seperti terombang-ambing.  Mempertanyakan makna dari sebuah kata ‘cinta’. Mungkin yang kumaksud di sini bukan cinta pada Allah dan Rasul yang tak boleh diduakan dengan apa pun. Ini tentang keduniawianku. Oh ya, aku menulis ini ketika sedang futur. Lah trus kenapa ditulis? Untuk pengingat. Untuk bahan renungan. Untuk muhasabah. Untuk tafakkur. (buset dah lu bahasanya, An!)

Bahwa aku tak akan mungkin bahagia bila belum mencintai Allah & Rasul sepenuh jiwa. Betapa akan rapuh dan menderita aku bila fokus mencari cinta fana yang tak akan bertahan lama dan tertinggal di dunia. Lantas ketika aku mati, yang kucinta di dunia pun akan melupakanku. Begitu?

Yang kualami selama ini, cinta dunia memang datang silih berganti. Jujur, aku bukan tipe yang bisa setia dengan orang yang sudah lebih dulu menyakiti. Sekali aku menangis, itu sudah cukup. Aku masih bisa mencari pria lain yang sanggup menghapus air mata dari pipiku dan merengkuhku dalam peluknya.  Ya, aku tentu saja hanya bisa setia dengan pria yang bisa membuktikan bahwa dia mencintaiku karena Allah. Mau berusaha menjadi imamku yang mengajariku bagaimana menjadi makmum yang baik.

di sudut ruang jiwa, sepi dan perih.

Sepotong hati yang terdiam kaku di sudut ruang jiwaku sedang meradang. Dalam waktu delapan tahun terakhir, terluka berkali-kali. Kusembuhkan sendiri dengan airmata penghambaan pada Allah. Berjanji pada-Nya untuk taat. Aku telah berusaha dan aku gagal.

Sudah cukup sekali. Maka kini, aku hanya ingin bermain untuk menyembuhkan luka. Mari, siapa saja dapat singgah untuk mencerahkan hatiku. Mewarnainya dengan biru, ungu, kuning, hijau, merah, cokelat… Apa pun! Aku tak akan memberikan hatiku lagi pada yang hanya ingin merendahkanku. Aku menantang siapa pun dengan nama Allah.

Aku di sini. Tak peduli hujan yang membasahi. Kutinggalkan payung entah di mana, agar aku dapat menari di antara rintihan bening yang dapat menyembunyikan airmataku…

#kamu, masih ada ruang di hatiku. boleh kau isi kapan pun. aku menunggumu pulang…

Aku menyebut namanya (Herry Fahrur Rizal) di fesbuk dan inilah responnya atas curhatan geje hari ini (di sela kesibukan dia yang sok rempong :D ) :

Why do you feel that you are not strong enough, Sis…? :)

Allah saja meyakinkan hamba2-Nya bahwa ujian cinta-Nya itu sudah dipastikan dapat dilalui umat-Nya…

Kenapa lo ragu, ketika Allah aja yakin lo sebetulnya bisa ngadepin?

—-

Ada ya nyari pertolongan Allah pake jalan pintas?

Yusuf Qordlowi bilang: “KETERGESAAN TIDAK AKAN PERNAH MEMPERCEPAT TAKDIR!”

—-

Kata siapa kalo kita ditimpa masalah, Allah gak minta kita memikirkan jalan keluar? : )

Sabar & Shalat itu ikhtiyar Spiritual.
Memikirkan jalan keluar itu ikhtiyar Intelektual.
Bertindak itu ikhtiyar Fisikal.

Memang Allah mau ngasih jawaban, kalo kita cuma SABAR & SHALAT doang?!

No!

Soooo big NO!

Ibarat seorang pengangguran. Dia gak akan pernah dapet kerjaan kalo cuma ngendon doang di tempat ibadah!

Pikirin dong solusinya!

Apa kek!

Ngelamar kek!

Kerja apa gitu!

(ini bukan masalah kerjaan, mas bro! salah deh lo! *toyor*)

Iman itu utuh.
Elo bukan hanya ngandelin Allah lewat SABAR & SHOLAT! Elo harus mikirin solusinya dan bertindak!

Lagian, Allah mana mau ngasih jawaban tapi kita gak pernah ngisi soalnya? (Ngerti ya maksud gw…)

—-

Are you sure that you done the best?!

Are you sure that you are sooo ikhlas doing the things?!

Are you sure that you did them all as all out as possible?!

Di… Allah Maha Tahu gimana isi hati elo…

Biar kata elo mati2an ikhtiyar seperti apa yg gw bilang, kalo hati elo (sorry, ya) kotor; Allah mana mau ngasih…

Allah juga mikir mau ngasih ke hamba yg kek gitu…

Kalo Allah manusia, Dia bakal bilang: “Siapa elo?! Datang ke gue kalo ada butuhnya doang! Oke, lo mati2an berikhtiyar, tapi gue tau bener isi hati lo yg busuk itu…!”

Selalu, awali PERMINTAAN dengan PER-MAAF-AN… : )

Gw sering curhat ke Dia gini:

“Duhai Allah, hamba mohon ampun… Kau lebih tahu siapa hamba yg hina dina ini… tapi, kepada siapa lagi hamba meminta selain kepada-Mu…?”

Mostly orang2 khan kayak gini doanya:

“Duhai Allah… hamba udah ini… udah itu… tapi mengapa…” (yeee, mempertanyakan “Kapan” diwujudin! Terserah Dia, dong!)

—-

So?
Kenapa masih ragu…?

Di…
Pengabulan doa itu gak mesti berupa WUJUD FISIK yg apapun elo inginin itu…!

Doa… Sholat… Sabar elo itu emang “bekerja” menuju pengwujudan apa yg diinginkan itu…

Tapi, caranya cantik:

Mereka (doa, sholat, sabar, dan kawan-kawannya itu) “bekerja” dengan cara:

…MENGUATKAN keyakinan elo…

…MEMANTAPKAN pemikiran elo…

…MEMATANGKAN mental elo…

…MENGGERAKKAN kejadian… peristiwa… situasi… keadaan… kondisi.. yang menuju pengwujudan fisik sesuatu/seseorang yg elo inginin itu…

Klimaksnya memang satu: MENGGERAKKAN SESEUATU/SESEORANG yg diinginkan itu…

Tapi, ada tahapan yg elo perlu pahami…

Allah gak mau, hamba2 pilihannya dapet sesuatu… tapi ya gitu aja, gak ada spirit fight-nya!

Elo terpilih Allah, Di…

Elo terpilih Allah u/ dapetin sesuatu emang sengaja gak dimudahin sedemikian rupa kayak kebanyakan orang… sekalipun bagi Dia gampang banget…

Elo terpilih, biar Elo bisa jadi teladan buat anak-anak elo…

Elo terpilih Allah, biar elo sering “ngobrol” sama Dia…

Allah tuh seneng banget lagi diminta-minta sama hamba2-Nya…

Bahkan u/ hamba2 pilihan, Allah sengaja tuh memperlambat pengabulan doa…

Karena satu:
ALLAH-SENENG-BANGET-MENDENGAR-RINTIHAN-HAMBA-NYA-SAAT-MEMINTA!

Elo mestinya seneng…

Apa sih susahnya bagi Allah ngelepasin Bilal dari siksaan kejam majikannya sebelum dibeli Rasulullah SAW?

Karena Allah seneng rintihan Bilal, saat dia istiqomah bilang: “Ahad… Ahad… Ahad…” (terjemah bebasnya: “Hanya Engkau Allah yang satu, Hanya Engkau Allah yang satu…”

Di, elo pilihan Allah…

—-

Jadi, begitulah malam ini. Ada kelegaan yang menenangkan. Selain Herry, tentu saja hatiku merasakan damai dan tenang karena sepotong doa dan kekuatan darinya, seseorang yang sangat berarti bagiku.

Terima kasih untuk menyempatkan diri ‘membantaiku’ untuk sadar dan bangkit ya, Her…

Juga untuk #kamu, teristimewa

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.