Kepada: kamu yang sudah melindungiku selama hampir 11 tahun.
Hai kamu, yang selama ini menemaniku dalam diam.
Pertama kali aku bertemu kamu, sapamu begitu hangat dan menggoda. Penuh percaya diri, kamu mengerling manja seolah berkata, ‘pilihlah aku!’ Jelas tawaranmu sungguh menggoda. Aku melirik pada adikku dan dia setuju. Ahay, baiklah! Senang rasanya pencarianku berakhir melegakan.
Masa bulan madu denganmu memang indah. Mulus bagai jalan tol. Kamu tentu ingat, bukan? Ya, memang bahagia mendengar banyak celoteh ketika bersamamu. Ramai gelak tawa dengan sesekali emosi di sekeliling kita.
Bertahun kemudian…
Ah, Pernahkah aku berbisik padamu, bahwa kebersamaan kita tiada abadi? Tempatku bukan bersamamu. Adikku yang lebih berhak. Suatu saat aku harus menjauh darimu. Mandiri. Aku tak akan selamanya di sini. Kuharap kamu mengerti itu.
Gelisahku semakin tak terbendung…
Kamu tahu bahwa waktuku bersamamu semakin sempit. Nafasku terkadang sesak bila memikirkan betapa beratnya meninggalkanmu. Maafkan aku.
Entah berapa kali aku mencoba untuk tetap bertahan denganmu. Bahwa semua baik-baik saja. Bahwa kita ditakdirkan menghabiskan waktu bersama. Bahwa selamanya waktu menjadi milik kita. Tetapi demi Tuhan, ternyata aku salah. Aku tak lagi bisa membohongi diriku sendiri. Aku harus berpisah denganmu.
Aku semakin tersiksa dari waktu ke waktu. Ada saja pihak ketiga yang semakin meyakinkanku untuk menjauh darimu. Aku bingung. Aku sedih. Aku muram. Maafkan aku, ya?
Kini, satu per satu penghalang sudah mulai terlepas. Aku siap untuk berpisah denganmu. Ternyata, sepertinya adikku juga akan ikut pergi bersamaku. Kamu, akan menemukan pasangan barumu segera. Kamu harus senang dong? Siapa tahu, ada yang akan mendandanimu lebih keren lagi? Ternyata aku tak bisa memberimu pelayanan yang terbaik. Maaf…
Suratku tak akan panjang, karena hanya akan menambah beban bagi kita berdua. Apalagi, ternyata kamu juga mulai tak nyaman denganku. Berdoalah pada Tuhan, agar mengabulkan permohonan kita berdua.
Salam sayang selalu,
Penghuni bilik sederhanamu.
PS: Kalau pemilik dan penghuni barumu ingin merombak tampilanmu secara total, tak apa. Kamu pasti lebih keren setelah diperbaiki total. Istilah temanku si arsitek: renovasi mayor.