Teristimewa
Untukmu yang justru membuatku menangis karena bahagia setiap hari.
Iya, ini untukmu.
Sebuah surat terbuka yang kutulis, agar semua orang dapat membacanya. Bukan hanya kamu.
Aku masih mengingat tentang sebuah link lagu yang kauberikan di pagi hari. Tahun lalu, hari Kamis. Maka, sejak hari itu, setiap minggunya, aku akan memutar lagu yang sama pada jam yang sama. Terdengar seperti lagu wajib ketika upacara bendera saat kita masih bersekolah dulu ya?
Surat ini tak akan panjang. Sepertinya aku memang tak ahli untuk memberi rayuan gombal lewat tulisan. *keselek* Entahlah, mungkin karena malu surat ini dibaca khalayak ramai. #tsaaaaahhh
Kamu memang selalu membuatku menangis. Kadang benar karena aku jengkel padamu yang sulit dihubungi. Di lain waktu karena khawatir mendengar suaramu terbatuk-batuk di telepon. Atau ketika aku begitu bahagia karena beruntung bertemu denganmu.
Tuhan punya selera humor yang aneh, kata orang. Dulu aku mencibir pernyataan ini. Ironisnya, kini aku mengamini tanpa menyesal. Mengapa? Karena dulu aku pernah mengatakan dengan tegas, pantang bagiku jatuh cinta pada seseorang yang telah kuanggap sahabatku sendiri. Nyatanya? *siap ditimpuk* *pakai uang seratus ribuan, tapinya*
Selalu berdesir ketika kamu, yang terbiasa menemani sepiku tersenyum dan bertanya, “Sudah makan?” Tetapi kemudian kamu sendiri yang menjawab, “Sudah kuwakili kok. Tenang saja. Tadi aku makan peda dan sayur asem. Dua porsi. Cukup, kan?” Kemudian kita tertawa bersama. Menyenangkan.
Banyak yang bilang (lagi-lagi ini sih kata orang) bahwa kita adalah pasangan jiwa. Bahasanya si William tuh artinya Soul Mate, gitulah. Banyak doa yang terkirim melalui DM, inbox, YM, dan sms. Aku hanya bisa mengamini. Tentu saja, sambil menangis.
Ya, jika aku sudah menangis, yang kamu lakukan hanya mengomel kecil atau bahkan tertawa, sepertinya masalahnya terlalu kubuat besar dan berat. “Ya, terus mau gimana? Udah kejadian kan? Gak usah nangis! Cari jalan keluarnya. Nangis gak bikin masalah kelar juga, kan?” omelmu santai. Nyebelin banget! Tapi aku sadar bahwa itu benar. Kamu, dengan caramu sendiri, mengajarkanku untuk tidak manja. Dan, lagi-lagi hal ini menjadi komentar teman-teman dan saudara. “So sweet banget deh dia itu!” Hah? *mikir*
Kamu juga pernah berjanji bahwa kamu akan selalu ada untukku, meski tak secara nyata. “Masih ada YM, sms, DM, dan inbox FB kan?” Saat itu aku hanya diam tak mengerti. Tetapi setelah sekian lama, aku tertawa kecil dan mengangguk pelan. Sepertinya ini latihan untukku
(tentu kamu mengerti maksudku, bukan?)
Aku pun berusaha berjanji untuk tidak menangis lagi. Oh ya, mungkin aku akan melanggarnya, karena kamu sangat mengenalku sebagai Si Cengeng yang mudah panik. Euh, baiklah. Maafkan aku. Aku selalu mengingat cengiran khasmu yang membuatku keki. Setiap kali kepanikan melanda, kamu hanya membiarkanku hingga akhirnya meledekku, “Emang biasa gitu. Kalo udah panik, akal sehat gak dipake.” *muka super lempeng* Haeh!
Ada satu saat ketika aku (mungkin) tak akan berhenti menangis. Kuharap itu adalah tanda bahwa aku bahagia. Bukan karena hal yang lain. Sebelum hari itu tiba, aku akan menunggumu di tempat biasa, sambil mendengarkan lagu-lagu yang kaukirimkan untukku.
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca surat ini. Kembalilah beraktivitas dan jangan lupa makan! Ingat, wakili juga diriku ya?
Januari 2012,
dari wanitamu yang menunggu dengan sepotong senja di hatinya.