2011 segera berakhir. Setelah refleksi 1432 Hijriah, saatnya bagiku mengingat apa yang sudah terjadi selama setahun terakhir dan menyukurinya sebagai salah satu bentuk pendewasaan diri.
Karir, keluarga, dan cinta mendominasi gelombang pasang surut diriku di tahun 2011. Terpuruk dan bangkit pada saat yang sama. Menangis dan tertawa hingga orang lain bingung karena tak tahu apakah aku sedang berbahagia atau bersedih.
Ada keputusan penting kubuat tahun ini setelah bertahun-tahun digoblok-goblokin karena tak bisa memilih. Lega. Tetapi kemudian, seperti efek domino, aku harus dengan cepat membuat keputusan lain karena berpengaruh pada kehidupan kedua mujahid kecilku selanjutnya.
Aku sangat beruntung pernah mendapat kesempatan untuk menjadi bagian dari tim keren seperti Nulisbuku. Sungguh luar biasa karena aku bisa mendapat banyak hal dan pengalaman baru. Terima kasih kepada Ollie, Angel, mas Oka, dan mas Ega untuk kesempatan yang telah diberikan
Bertemu dengan teman-teman Jejakubikel, fiksimini, sajak_cinta, dan puisikita itu keren banget! Bertambahlah saudara dan temanku
TAk bisa disebutkan satu persatu di sini. Kalian semua keren!
Bertemu lagi dengan mbak Esa, setelah terpisah lebih dari 15 tahun! Ya Tuhan, wanita hebat ini semakin tangguh dan kuat. Kehidupannya yang penuh kisah menjadi pelajaran berharga untukku.
Masih harus terus berjuang untuk bisa menjual rumah Depok dan membeli rumah di Bandung. Tak pernah berhenti berdoa untuk yang terbaik. Ya, jual beli rumah seperti mencari jodoh (katanya), cocok-cocokan. #uhuk
Umar dan Salman tumbuh lebih sehat, cerdas, dan kuat. Sepanjang 2011 tak sakit yang membutuhkan ekstra perhatian. Batuk pilek saja, karena bermain debu dan perubahan cuaca. Love my babies
Segala yang terjadi di tahun 2011/1432 membuatku semakin kuat karena banyaknya cinta dan dukungan untukku. Jika sepanjang tahun ini postingan di sini tersirat sebagai bentuk pelampiasan emosi, ya lebih baik daripada didiamkan menjadi penyakit hati dan berakhir konyol?
Menulis itu membuatku bertahan untuk tetap waras
Terima kasih untuk para sahabatku yang tak pernah lelah memberiku dukungan dan kritikan membangun. Selalu memberi solusi terbaik
Tak pernah terbayangkan bila tak ada kalian. Sungguh, terima kasih…
Juga untukmu, seseorang yang telah memberi warna pelangi dalam hidupku. Allah tak pernah salah dalam membuat skenario. Terima kasih sudah menjadi separuh nafas dalam separuh jiwaku.
Terakhir, tentu saja kepada Allah, Pemilik jiwa ragaku yang hakiki. Tanpa pernah berhenti sedikit pun mencintaiku dengan cara-Nya yang Maha Sempurna. Aku semakin kuat karena memiliki-Mu seutuhnya.
~Depok, ketika segalanya berjalan sesuai waktu-Nya~