Aku tak mencarinya dalam kamus Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Aku juga tidak mengetahui arti, makna, dan definisi lengkapnya. Tetapi aku merasa hati dan pikiranku memahaminya secara alami.
Sahabatku yang sudah mengetahui ‘jeroanku’ dari semenjak kami belum sekolah… Adalah salah satu mutiara yang akan kujaga hingga akhir hayat. Si pencinta warna ungu itu benar-benar istimewa. Memang tidak selalu mujus perjalanan persahabatan kami. Pernah kami salah paham, pernah kami tak sepakat, pernah kami berbeda maksud. Namun semua itu dapat kami pecahkan melalui pembicaraan dari hati ke hati.
Setiap ada masalah berat, aku bisa dengan santai mengalirkan ‘genangan air kotor’ dari hati dan otakku agak tak memenuhinya hinga menyimpan bau tak sedap. Dia yang membersihkannya dengan caranya yang unik. Aku menyukainya.
Satu lagi sahabatku yang baru kudapatkan saat aku kuliah. Ibu dua anak cantik, seorang periang bersuara cempreng itu sungguh baik luar biasa. Ketika aku pulang dari rumahnya setelah menengoknya yang baru melahirkan, dia berucap, “An, jangan pernah kamu lupa bahwa kamu pnya saudara di sini.” Hatiku meleleh karena terharu. Ya Rabb, indahnya persahabatan ini. Dia pun bukannya orang yang 100% sempurna. Kami pun pernah berselisih paham hingga meledak-ledak. Tetapi semuanya berakhir baik.
Kemudian, seroang akhwat penulis kreatif anggota FLP yang belum lama kukenal melalui dunia maya. Akhwat cantik luar dalam dengan kelembutan bak bidadari surga… Duh CInta Sejatiku, dia yang sudah kuanggap kakakku sendiri, dengan caranya yang unik selalu menasehatiku tanpa segan. Dia memahami karakterku yang labil dan keras. Dia mengimbanginya dengan sabar dan senyum. Sungguh, kecantikan yang murni…
Ketiga muslimah inilah yang menemani hari-hariku… Jadi, aku merasakan definisi persahabatanku bisa dijabarkan kurang lebih: mengenal, memahami, memaklumi, mengalah, dan memaafkan. Definisi yang sederhana namun menjelaskan dengan tepat.
Ketiganya sudah menjelma menjadi muslimah pejuang dalam rumah tangga mereka, larut dalam kesibukan dunia baru mereka, namun tak melupakan barang sedetik seseorang yang begitu rapuh yang selalu membutuhkan mereka. AKU.
Mereka memahami kondisi kejiwaanku yang sungguh labih dan emosional. Mereka mengerti setiap kata-kata yang keluar dari mulutku itu maksudnya apa. Mereka selalu menyiapkan rengkuhan tangan mereka untuk memelukku. Setiap saat.
Apa yang bisa kubalas untuk mereka? Hanya sebuah untaian doa pada Sang Kekasih, “Allah, aku memohon kepadaMu dengan segala kerendahan hati dan kehinaanku sebagai hambaMu yang dho’if ini… Jagalah tiga mutiara indah yang Kautitipkan padaku ini agar terhindar dari segala sesuatu yang buruk. Ijinkan aku untuk dapat bersama-sama mereka di JannahMu, Rabb. Mereka terlalu baik. Kebaikan yang berasal dariMu. Kebaikan yang selalu mendatangkan manfaat dunia akhirat. Rabb, aku mencintai mereka karenaMu. Ridhoi setiap langkah mereka. Lindungi keluarga mereka. Berkahi dan lapangkan rezeki mereka. Allahumma amien.”
Untuk saudari-saudariku terkasih: Ve, Q, teteh…