Arsip untuk Maret, 2008

Satu Sayap

Mungkin satu sayapku memang harus patah.  Mungkin memang harus terluka.

Mungkin sebelah hatiku memang harus terbelah. Mungkin memang harus demikian.

Setelah lima tahun aku selalu terbang bersamamu, mungkin ini saatnya aku harus terbang sendirian. Setelah lima tahun aku selalu berbagi bersamamu, mungkin ini saat aku harus menyimpannya untuk diriku sendiri.

Mungkin Bila harus seperti itu adanya, kita akan terluka. Tali yang pernah kita simpulkan akan putus. Namun aku tak mampu menyambungkan kembali tali yang putus itu. Tak akan semulus keadaan tali semula.

Aku… Ingin semua ini selesai demi calon mujahidku…

Komentar bertahan »

Jelang Milad

Aku semakin sering bertanya pada diriku sendiri. Juga terkadang aku ‘berusaha bertanya’ pada para malaikat pendampingku.

Pada malaikat di sebelah kananku, aku bertanya,”Apakah saldo amalanku sudah meningkat untuk mendapatkan poin minimal pembelian tiket ke surga?” ia hanya tersenyum tipis.

Pada malaikat di sebelah kiriku, aku bertanya, “Apakah tanda merah di raport amalanku semakin bertambah?” ia menyeringai hingga membuatku bergidik.

Aku menangis…

Seandainya aku boleh menghitung-hitung…. Kemungkinan besar jatah usiaku tak sampai duapuluh tahun lagi… Bukan, bukan aku mendahului takdir Allah.. Aku hanya sekedar berhitung matematis a la manusia saja.

Hingga saat ini, banyak yang belum aku lakukan. Terlalu banyak membuang waktuku sia-sia. Aku harus berkemas. Aku takut tertinggal kereta untuk menuju ke terminal akhir. Aku harus mengecek ulang, apakah perbekalanku sudah siap semua?

Allah, aku sekedar berbisik padaMu hari ini, “Terima kasih, Cinta!”

Komentar bertahan »

Selalu Seperti Itu

Seandainya aku boleh memilih…

Dan seandainya bisa memilih…

Aku ingin kembali dan memutar waktu. Merenda sebuah kenangan usang yang seketika menyeruak hadir. Memaksaku untuk tersenyum getir. Menahan nafas yang sungguh berat.

Di saat hatiku terbelah dan hancur, haruskah seperti ini?

Komentar bertahan »

Luasnya Atap Rumah Kita

Almarhum bapak dan almarhumah mama adalah dua sejoli yang unik. Setidaknya demikian menurutku dan adikku. Dengan beda usia yang cukup jauh -17 tahun- membuat banyak perbedaan prinsip, cara hidup, dan persepsi yang kerap membuat keduanya tegang. Tetapi keunikan itu pula yang menjadikan mereka berdua sangat romantis. Kisah di bawah ini adalah hasil interaksi aku dan mama jauh sebelum mama wafat tahun 1998. Jadi, cerita ini lebih kepada versi mama. Soalnya jika aku bertanya pada bapak, beliau selalu berkata, “Tanya saja pada mama.” Aku hanya berusaha netral.

AWAL PERTEMUAN

Pertemuan pertama mereka terjadi di pertengahan dekade tujuhpuluhan. Gedung RRI di Jalan Merdeka Barat Jakarta menjadi saksi bisu pertemuan itu. Awalnya, mobil bapak di parkir terlebih dahulu. Tak lama kemudian, mobil mama pun diparkir tepat di sebelah mobil bapak. Sepertinya memang rencana Allah, bukan?

Setelah pertemuan itu, bapak mulai sering menelepon mama. Padahal saat itu, bapak sudah beristri dan punya sepuluh orang anak. Mama menanggapinya dingin-dingin saja. Lagi pula, saat itu mama sedang dekat dengan seseorang. Apa lagi mama belum mau menikah dan memilih menjadi wanita karir.

Tetapi memang harus demikan suratan takdir. Mama akhirnya memenuhi undangan ibu (istri pertama bapak) untuk menemui beliau di sebuah rumah makan. Entah apa yang mereka bicarakan, tetapi pada intinya, justru ibulah yang menyuruh mama untuk menikah dengan bapak. (Menurutku, mama menikah –saat itu- alasannya adalah demi ibu yang sedang sakit).

PERNIKAHAN ITU

Bapak dan mama menikah di Tangerang pada tahun 1974. Pekerjaan bapak sebagai wartawan senior yang sering bertugas ke luar negeri menyebabkan mereka jarang bertemu sehingga mereka berdua tak segera mempunyai anak. Tetapi mama pun sering mendampingi bapak jika sedang dinas ke luar kota maupun luar negeri. Dari koleksi foto mereka, terlihat betapa romantisnya mereka berdua.

Pada awal tahun 1979, mama memutuskan untuk mengajukan cerai pada bapak karena merasa tidak bisa memenuhi syarat sebagai seorang istri yang tidak bisa memberikan keturunan. Bapak pun nyaris meloloskan permintaan mama, ketika suatu hari mama berkata pada bapak bahwa mama hamil. Bapak tertawa kecil dan berkata, “Ah, bergurau kau!” Tapi mama berusaha meyakinkan bapak dengan memeriksakan diri ke dokter untuk kedua kalinya. (Pemeriksaan pertama mama lakukan bersama kakaknya ketika bapak sedang dinas luar negeri). Memang, ternyata mama sedang hamil delapan minggu.

Tahun 1980 aku lahir ketika bapak sedang ke Thailand. Sisi romantis bapak terlihat dari namaku. Nama Diana diambil karena bapak salah seorang penggemar Putri Diana dari Kerajaan Inggis. Kata bapak, “Lady Di itu cantik luar dalam. Bapak mau kamu seperti dia.” Siti Khadijah adalah nama istri pertama Rasulullah SAW yang selalu setia mendampingi dengan segenap jiwa raga bahkan harta. Bapak ingin jika kelak aku menikah, dapat meneladani sifat setia Ummahatul Mukminun itu.

Tahun 1983, lahirlah adikku yang merupakan anak terakhir bapak dan mama. Seorang anak lelaki yang ditunggu-tunggu oleh mereka berdua dan menjadi anak kesayangan mereka. Tumpuan harapan masa depan. Tetapi arti dan filosofi nama adikku, aku sendiri tidak pernah tahu.

Ketika adikku berusia dua tahun, mama mutasi kerja ke Cirebon, sementara bapak tetap di Jakarta bersama ibu. Mama memilih mandiri secara keuangan dengan berjuta pertimbangan. (Kini, aku merasakan kemandirian mama membuahkan hasil yang sungguh luar biasa. Prediksi masa depan mama benar-benar tepat!) Rumah yang mama beli di Cirebon adalah hasil perjuangan mama selama bekerja di Jakarta. Benar-benar uang mama sendiri. Meski demikian, tentu saja bapak tetap dapat tinggal di sana kapanpun bapak mau.

Bapak pernah berseloroh pada kami di Cirebon,”Kalian tau gak sih? Rumah kita adalah rumah terbesar di dunia?” Adikku yang masih kecil itu terkejut.

“Masa, sih? Bukannya rumah kita kecil?”

“Iya, karena satu atap di Cirebon, satu atap di Jatiwaringin (Bekasi). Jadi luaaaaasssss.. sekali! Betul kan?” jawab bapak sambil merentangkan kedua tangannya. Aku dan adikku tertawa.

“Iya ya? Jadinya kalau disambung, luas banget, ya?” aku manggut-manggut.

MESRA

Bapak dan mama senang sekali mengutip puisi atau ungkapan yang romantis. Salah satunya adalah:

Wanita tidak diciptakan dari tulang tengkorak yang bisa menandakan bahwa sejatinya agar dia tidak menjadi tinggi (hati), Ataupun dari tulang kaki, agar dia tidak diinjak-injak (harga dirinya) oleh laki-laki.

Namun ia tercipta dari tulang rusuk sebelah kiri, didekat hati agar ia dicintai. Dan terletak di dekat tangan, sejatinya agar ia dilindungi….

Biasanya mama membingkai tulisan itu dengan gambar bunga di sudutnya. Bapak pun sering memberikan hadiah dengan secarik kertas bertuliskan:

“Untuk Endie sayang, sebagai kado istimewa di hari pernikahan kita.

Mas yang lagi kangen”

Aku selalu tersenyum bila mama mendapat hadiah itu. Kadang, dengan maksud becanda aku berbisik pada mama, “Ma, bapak tuh romantis apa norak sih?” Mama langsung mendelik.

Di setiap foto yang aku abadikan, mama dan bapak selalu berpose bagaikan dua remaja yang dimabuk cinta. Berpelukan erat sekali. Terkadang, bapak dan mama saling mencium mesra. “Gak papa kan mesra di hadapan umum? Kan udah halal,” kilah bapak selalu. Aku tersenyum tipis. Kalau sekarang mereka masih ada, aku akan berseloroh, “Berpelukan melulu kayak teletubbies ajah!”

JIKA HATI PANAS

Setahuku, mama dan bapak tidak pernah bertengkar hingga kelewat batas. Aku tak pernah melihat bapak memukul mama. Ternyata, salah satu alasannya adalah ancaman mama, “Jika mas berani memukul saya, kita cerai!” Aku juga tak pernah mendengar mama berteriak pada bapak. Jika mereka berdua marah, masing-masing menuangkan pada tulisan. Melalui surat yang dikirim kilat khusus. Jadi aku tak pernah melihat mereka bertengkar secara nyata di hadapan aku maupun adikku. (Belakangan aku tahu hal ini setelah mereka meninggal dunia, dan aku menemukan setumpuk surat-surat mereka.)

Surat-surat itu menjadi ajang interaksi mereka sebelum adanya sambungan telepon di rumah kami di Cirebon. Ternyata, setelah ada sambungan Telkom pun, mereka tetap menjadikan Pak Pos sebagai perantara mereka dalam menyelesaikan masalah. Cara unik ini ternyata secara tidak sadar aku ikuti kini setelah berkeluarga.

Meski bapak dan mama sedang emosi dan ‘marahan’, mereka tetap mengajak aku dan adikku jalan-jalan ke mall atau sekedar makan siang di luar. Mereka tak pernah mau anak-anaknya tahu apa yang terjadi. Meski, setelah beranjak dewasa, aku sering menjadi teman curhat mama.

Satu hal yang mungkin tak akan pernah aku lupakan, saat itu aku berusia 16 tahun. Mama sedang menemaniku control ke dokter di RS. Pelni Petamburan Jakarta. Entah karena aku sedang memikirkan hal yang lain, aku tak menyimak apa yang mama bicarakan. Tiba-tiba mama mengucapkan seusatu yang bagiku saat itu sangat aneh. “Teh, tidak akan pernah ada istilah bekas anak. Tetapi kalau bekas suami atau bekas istri itu ada.” Aku terdiam dan menatap bingung ke arah mama. Ada apa sih? Ada telaga bening di mata mama.

Ucapan mama itu membekas hingga kini. Aku baru mengetahui sebab ucapan mama dari uwak (ipar mama) tahun 2007 yang lalu. “Mama pernah minta cerai ke bapakmu, An. Uwak sendiri gak tau alasannya.” Cerai? Itu memang basi. Mama sering kali meminta cerai pada bapak. Maaf, alasannya tak bisa aku ungkapkan. Tetapi yang jelas, hubungan romantis mereka yang aku rekam dalam hati tak pernah berubah.

PERPISAHAN TANPA AIR MATA

Mama menderita sakit sejak lama. Tepatnya sejak melahirkan adikku. Mungkin karena mama seorang pekerja keras dan nyaris tak mengenal kata libur. Jadi, jika terkena kanker hati, memang sudah takdir. Awalnya hanya ringan saja. Tetapi ketika penyakit itu mengganas, mama hanya tersenyum tipis. Apalagi, bapak jarang sekali menemani mama di rumah sakit. Bukan bapak tidak sayang, namun lebih kepada prinsip bapak yang sangat anti dokter (beliau adalah herbalis sejati), sehingga bila menjenguk hanya sebentar lalu pulang. Bapak berulang kali meminta maaf pada mama dan berulang kali pula mama memaafkan.

Di bulan-bulan terakhir hidup mama, wajah bapak selalu pias. Ada rasa enggan berpisah dengan mama. Ada rasa tak rela melepas mama. Bapak selalu berkata bahwa mama pasti sembuh dan bisa kembali berkumpul dengan kami di rumah. Ketika kemungkinan hidup tinggal 10%, bapak memilih menyendiri. Bapak merasa tidak tega melihat penderitaan “tulang rusuknya” itu. Dengan menahan sedih yang sangat, bapak membisikkan kata terakhir pada mama, “Endie sayang, mas ikhlas.” Hanya itu. Aku yang berada di dekat mereka, tak bisa berkata apapun. Aku tak melihat ada air mata yagn menetes dari pipi bapak, tetapi pucatnya wajah bapak dan reaksi tangan mama berbicara, bahwa saatnya akan tiba. Mama pergi dengan tenang.

TANPA MAMA

Aku ingat sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa angsa ditakdirkan untuk hidup berpasangan. Bila pasangannya mati, tak lama yang seekor lagipun akan mati. Tak ada yang boleh dan tak bisa menggantikan yang mati terlebih dahulu dengan angsa lain.

Begitu pula bapak. Setelah mama pergi, bapak semakin terpuruk. Tak lagi ceria. Semakin pendiam dan selalu menyendiri. Hatinya mudah terluka dan sensitif. Tanpa teman berbagi kala suka maupun duka, apalah arti hidup?

Bapak yang biasa makan dengan porsi sedikit, setelah mama pergi makannya semakin sedikit. Bahkan tak jarang, bapak memilih puasa. Seperti menyesali kejadian lama bila mereka kadang bersitegang. Jika aku menemani bapak berbincang, tak ada lagi tawa yang dulu. Hanya ada kata-kata yang tidak jelas. Bapak selalu berkata ingin pergi. Meski aku tak pernah menyadari arti kepergian itu.

Ketika aku dan calon suamiku (kini suamiku) menghadap bapak untuk meminta ijin menikah, bapak tak langsung setuju. Seolah tidak rela aku diambil orang. Seolah tak mau jika aku jauh dari bapak. Bapak sungguh sulit diajak berdialog. Bapak merasa kehilangan kendali. Tanpa adanya teman diskusi, bapak kini harus memecahkannya sendiri. Hingga akhirnya, suatu siang bapak mengatakan sesuatu padaku. Hanya tiga kata, “Bapak minta maaf.” Tatapannya nanar. Aku dan calon suamiku saat itu menerjemahkan bahwa bapak menyetujui rencana pernikahan kami dan meminta maaf telah menyulitkan jalan kami. Aku memeluk bapak erat dan menangis.

“Teh, bapak pesen sama teteh dan Adie. Kalian harus rukun berdua. Mama udah gak ada. Bapak juga kan udah tua. Rukun-rukun ya?” begitu amanah bapak di suatu sore. Aku mengangguk. Ada rasa aneh menggelitikku ketika bapak mengatakan itu.

Firasatku yang tidak enak segera aku tampik. Tetapi tidak dengan suamiku. “Bapakmu aneh, deh! Kemarin beliau bilang mau pergi. Wajahnya tampak sangat tenang. Senyumnya manis sekali. Wajah bapak begitu bercahaya. Emangnya bapak mau ke mana sih? Apa bapak mau nyusul mama kamu, ya? Eh, maaf! Tapi kok rasanya aneh…” Aku hanya tertunduk. Aku menjawab mungkin, meski dalam hati.

“Teh, segera ke Jati. Bapak meninggal tadi sore.” Pesan dalam secarik kertas yang ditulis sepupuku menempel di pintu rumahku. Aku dan suamiku baru saja pulang dari supermarket. Aku terpana. Diam tak bisa berkata apapun. Dengan perasaan campur aduk dan pikiran kosong, aku berusaha untuk tetap tenang. Aku dan suamiku bergegas ke rumah bapak. Saat itu waktu menunjukkan pukul sebelas malam.

Kulihat sosok yang kini terbujur kaku. Bapakku tampak tenang. Ketika kutanya pada mbakku (anaknya ibu) apa penyebab bapak meninggal, jawabnya adalah, “Bapak jatuh di kamar mandi ketika mau ambil wudhu untuk shalat Ashar.” Aku mengangguk pelan. Bapak memang tidak pernah sakit aneh-aneh. Hanya batuk pilek yang biasa disembuhkan dengan ramuan tradisional.

Bapak telah memenuhi janjinya pada mama untuk tidak menikah lagi setelah ibu dan mama meninggal. Pun bapak juga tetap berkeinginan mempertahankan keluasan atap rumah versinya. Mama dimakamkan di Cimanggis sementara bapak dimakamkan di Jatiwaringin.

Cinta mereka di dunia telah berakhir. Namun kemesraan yang pernah mereka ajarkan melalui kehidupan mereka, sungguh membekas dan terasa hingga saat ini. Rumah tangga tanpa kekerasan sudah berhasil mereka jalani. Baiti jannati yang sesungguhnya sudah mereka praktekkan untuk kami teruskan.

Aku mungkin tak akan pernah bisa menyaingi cinta indah mereka, tetapi aku telah belajar tentang menerima keadaan pasangan apa adanya. Terima kasih. Aku mencintai kalian!

Komentar (7) »