Maret 31, 2008
· Disimpan dalam Big Problem, Hatiku
Mungkin satu sayapku memang harus patah. Mungkin memang harus terluka.
Mungkin sebelah hatiku memang harus terbelah. Mungkin memang harus demikian.
Setelah lima tahun aku selalu terbang bersamamu, mungkin ini saatnya aku harus terbang sendirian. Setelah lima tahun aku selalu berbagi bersamamu, mungkin ini saat aku harus menyimpannya untuk diriku sendiri.
Mungkin Bila harus seperti itu adanya, kita akan terluka. Tali yang pernah kita simpulkan akan putus. Namun aku tak mampu menyambungkan kembali tali yang putus itu. Tak akan semulus keadaan tali semula.
Aku… Ingin semua ini selesai demi calon mujahidku…
Maret 31, 2008
· Disimpan dalam Hatiku, Renungan
Aku semakin sering bertanya pada diriku sendiri. Juga terkadang aku ‘berusaha bertanya’ pada para malaikat pendampingku.
Pada malaikat di sebelah kananku, aku bertanya,”Apakah saldo amalanku sudah meningkat untuk mendapatkan poin minimal pembelian tiket ke surga?” ia hanya tersenyum tipis.
Pada malaikat di sebelah kiriku, aku bertanya, “Apakah tanda merah di raport amalanku semakin bertambah?” ia menyeringai hingga membuatku bergidik.
Aku menangis…
Seandainya aku boleh menghitung-hitung…. Kemungkinan besar jatah usiaku tak sampai duapuluh tahun lagi… Bukan, bukan aku mendahului takdir Allah.. Aku hanya sekedar berhitung matematis a la manusia saja.
Hingga saat ini, banyak yang belum aku lakukan. Terlalu banyak membuang waktuku sia-sia. Aku harus berkemas. Aku takut tertinggal kereta untuk menuju ke terminal akhir. Aku harus mengecek ulang, apakah perbekalanku sudah siap semua?
Allah, aku sekedar berbisik padaMu hari ini, “Terima kasih, Cinta!”
Maret 28, 2008
· Disimpan dalam Hatiku
Seandainya aku boleh memilih…
Dan seandainya bisa memilih…
Aku ingin kembali dan memutar waktu. Merenda sebuah kenangan usang yang seketika menyeruak hadir. Memaksaku untuk tersenyum getir. Menahan nafas yang sungguh berat.
Di saat hatiku terbelah dan hancur, haruskah seperti ini?