Arsip untuk Februari, 2008

Bikin Skenario

Tanggal 25 Feb 08 di Rumah Cahaya Depok 2, ada pelatihan BATRE pertemuan ke-2.  Kali ini bintang tamunya bang Zaenal Radar. Wait…. Keknya pernah denger… Atau pernah ketemu? Ketemu sih gak pernah.. Kalau denger namanya.. Bang, ikutan milis naratamatv gak seh?

Tema yang dibahas kali ini mengenai skenario. Entah itu untuk sinetron ataupun film. Ketika ditanya apakah semua peserta ada yang pernah nulis skenario? Gak ada yang jawab. Padahal aku mau jawab. Tapi aku malu. Aku pernah buat 2 skenario dan 2-2nya ditayangkan. Yang satu diambil honornya, yang satu lagi gak.

Ah, buat apa aku sombong pernah nulis skenario? Kalau dong dibandingkan sama bang Zaenal… Kalah set!

Pe-ernya pun suruh nulis skenario. Waktunya 2 minggu. Aku gak perlu nulis. Tinggal print out yang ada di data base… Hehehehe…

Kalau aku ada notebook atau PC di rumah, aku mau tuh nekunin bidang skenario. Tapi yaaa… Cuman mimpi!

Dah ah, back to the real world!

Komentar (2) »

Kencan Pertama Bersama Teh Pipiet Senja

Cuaca pagi di Depok pada Ahad tanggal 17 Januari 2008 kurang bersahabat denganku. Dingin, mendung, dan membuatku malas untuk sekedar bangkit dari tempat tidur. Tetapi aku harus segera bangun, beres-beres, dan pergi ke FLP Depok. Aku akan mengikuti pelatihan kepenulisan. Ikutan BATRE (Basic Writing Training For Beginner) angkatan VI.

Perasaanku gak karuan deh! Soalnya, meskipun aku orang Depok, tapi berkunjung ke FLP yaaa… Baru pertama kali ini! Waks! *tepok-tepok jidat* Yang bener aje? Makanya aku merasa gugup. Serasa akan kencan pertama dengan pacar. Ohix…

Setelah siap meninggalkan rumah dengan sejuta catatan (selesai pelatihan kudu nyuci nyetrika! Maklum, kalau hari Ahad jadwal jadi Juminten.. Hehehehehe), aku segera berangkat. Turun dari angkot, hujan mencolekku dengan santainya. Sebel! Aku berlari menuju FLP dengan terengah-engah. Sudah menunjukkan pukul sembilan pagi gitu lho! Kan takut telat! Eh, ternyata belum mulai. Lega!

Kemudian aku ke lantai dua, masuk ruangan mungil yang ternyata dulunya ruang kerja mbak Asma Nadia. Ada seorang perempuan setengah baya yang membuatku bengong seketika. Teh Pipiet? Bener kan teh Pipiet? Lha, kenapa juga aku mesti salah tingkah begini? Maklum, aku hanya bisa membaca karya-karyanya tanpa pernah bertemu dengannya sama sekali. Sambil menutupi rasa grogi ini, aku duduk di sebelah mbak Tami dan mbak Feti, dua teman baruku.

Setelah pembukaan acara dengan lantunan ayat suci Quran, dimulailah kencan bersama teh Pipiet. Meskipun, belum apa-apa, teh Pipiet sudah wanti-wanti tidak bisa berlama-lama karena ditunggu cucu tercinta. Yaaaa…

Pembacaan biodata singkat dan karya-karya teh Pipiet oleh panitia mengundang decak kagum. Tetap semangat meski memiliki keterbatasan yang mungkin tak akan sanggup ditanggung oleh orang lain. Bahkan oleh diriku sekalipun! Salut! Satu hal yang menyenangkan adalah humor-humor teteh yang mengalir ringan dan celetukan khas anak muda yang fasih dilontarkan benar-benar tak menggambarkan usianya yang sudah setengah abad.

Nah, sebagai orang yang berpengalaman di bidang kepenulisan, tentunya teteh punya kiat-kiat agar tulisan kita enak dibaca, atau bahkan lolos untuk diterbitkan. Dari semua penjabaran teteh, ada 2 hal yang aku simak benar, yaitu: kiat mengatasi ide yang buntu dan menghalau “jurig” (hantu, sunda) mood. Keren amat ya istilahnya?

Kedua kiat itu memang selalu aku garisbawahi di setiap awal aku ingin menulis apapun. Dari jaman aku kecil. Ternyata kiat yang dipakai teteh, persis sama dengan apa yang aku praktekkan.

Ketika teteh memberikan alamat blog teteh di MP, aku sempat nyeletuk, “Teh, MP teteh kan ada di daftar teman-temanku.” Teh Pipiet hanya manggut tak jelas. Yah, sedih deh! Kirain mau direspon hangat. Ye, ge-er! Siapa elu, An???

Nah, ketika waktu kencan bersama teh Pipiet berakhir, akhirnya seluruh peserta BATRE kudu turun lagi ke bawah untuk pengenalan anggota senior FLP lainnya.

Untuk teh Pipiet yang dirihoi Allah, lain kali aku jangan dicuekin yaaa… Hix… Karean aku siap dengan kencan-kencan berikutnya dengan teteh…

Komentar (1) »

Membisik Kata Rindu

Aku rindu entah bagaimana

Aku kehilangan sesuatu yang terserak

Di mana tertinggal, tak pernah kuingat

Aku rindu pada yang tak pernah kulihat

Tak pernah kurasa

Tak pernah kuraba

Komentar (1) »

Menatap Langit Melupa Tanah

Riuh rendah memaksa hati untuk tetap diam

Menata suara agar terdengar wajar

Kutatap wajah polos itu dan kucoba menyelami sinar matanya

Perlahan, kuhela nafas berat dan menggeleng lemah

Sayup kudengar rintih tangis menahan gejolak rasa dari bibir mungilnya

Kutahan agar tak meleleh dan meluap telaga beningku

Hingga akhirnya langkah kecil itu terseret gontai

Tertidur dipangkuan dengan sejuta tanya

Maafkan bunda, Nak! 

Komentar (4) »