Disclaimer: tulisan ini hanya catatan ringan. Buat yang mau protes, jangan sama dirikuh yaaa… Sama rumput yang bergoyang ajah!
=======
Segala perbedaan itu… Membuatmu jauh dariku… (petikan syairnya Ari Lasso)
Bersenandung dalam hati sembari tersenyum miris. Maksudnya? Gak ada maksud apa-apa. Hanya sekedar bergumam, menerawang, dan menghela nafas berat.
Ketika hatiku berbisik bahwa aku telah berkhianat padanya (hatiku), aku pun berbalik mengelak, oh bukan. Aku tak mengkhianatimu. Aku hanya tak mau menuruti egoku yang sudah setebal tembok Cina itu! Aku kembali mendehem (sampai2 manajerku mendelik. Kenapa lagi si Diana ini?) dan berusaha tidak menepis rasa itu sesaat.
Kata orang -katanya lho-, cinta kepada makhluk tidak ada yang abadi. Tetapi sebagian yang lain ngotot dengan sepenuh hati, “I love you forever“. Yalah, whatever! Hehehehe. Dua kubu ini gak pernah akur. Tapi juga tidak pernah saling mendahului kayak kendaraan di jalan raya itu!
Aku pernah berada di persimpangan hati (seperti Simpang Tiga Depok, gituh?) ketika aku harus memilih, cinta duniaku atau cinta kepada Sang Pemilik Cinta? Dua-duanya ada resiko senang dan tidak senang. Dan keduanya pun berakhir dengan epilog yang sungguh jauh berbeda pula.
Seperti ketika aku sedang larut dalam cinta duniaku yang penuh fatamorgana itu. Serasa dunia milik berdua, sementara yang lain ngontrak. Gak peduli omongan orang, pandangan sinis orang, dan petuah2 orang2 tua diterobos. Tanduk2 setan langung tumbuh dengan suburnya (dikasih pupuk?) plus seringai jahat bin jelek itu. Aku bahagia tetapi sekaligus menderita. Tak pernah ada rasa aman. Tak pernah ada rasa damai.
Coba bayangkan kembang api. Definisikan: Meriah. Ceria. Warna warni. Gemerlap. Tetapi cepat padam. Sekarang bayangkanlah lilin. Definisikan: Sunyi. Tenang. Hangat. Awet.
Ketika cinta dunia menyala, aku seperti menyalakan sebuah kembang api. Terang sesaat kemudian padam menyisakan debu. Dicari hingga ke pelosok, setelah habis diinjak dan dicampakkan. dilupakan.
Kemudian aku mencari cinta yang lain. Berharap tak cepat padam. Tak cepat layu bagai mawar yang tiada pernah disiram (waks, bahasanya!). Pertemuanku dengan cinta baruku menimbulkan sensasi tersendiri.
Tiba-tiba aku merasakan kehangatan sesungguhnya. Kerinduan yang tak berkesudahan. Kehausan akan kasih yang tak pernah terpuaskan. Sedetik saja aku lengah, cinta itu akan pergi. Maka aku berusaha untuk menjaga cinta baruku sekuat tenaga bagai menjaga nyala api lilin agar tak tertiup dan tetap bersinar.
Ternyata, cinta keduaku menuntutku untuk selalu bersama. Dan kenapa juga aku mau? Kenapa sih gak seperti cinta pertamaku yang malah ingin segera aku tinggalkan meski dia tak menuntutku?
Perbedaan itu sungguh terlalu besar. Meski dengan cinta pertama aku tinggal duduk manis menikmati cintanya, aku justru segera angkat kaki. Dengan cinta keduaku, meski aku harus berdarah-darah menggapainya, aku sungguh rela. Justru aku yang mengemis tak ingin ditinggalkan.
Dan akhirnya aku bisa bergumam dengan senyum,
CintaMu dalam hatiku, memenuhinya begitu (petikan syairnya DEBU)