Dipuja, dirindu, dicaci, dihujat…
Mengenang beliau yang telah wafat pada usia 87 tahun pada tanggal 27 Januari 2008 di RSPP, jujur membuatku menangis bahkan hingga hari ini. Tangisku yang bermakna macam2, tidak usah ditanggapi terlalu emosional. Santai sajalah.
Aku menangis karena lega, penderitaannya berakhir. Nyeri rasanya hati ini melihat 24 hari hidupnya ditarik ulur, kritis dan ‘normal’, tergantung ventilator. Maka aku berdoa yang terbaik. Hidup, hidupkanlah dengan normal. Mati, matikanlah dengan baik.
Aku menangis karena sedih, tak lagi bisa melihat senyumnya yang kharismatik itu. Sedih karena aku merasakan ’senangnya’ hidup dimasa kepemimpinan beliau.
Aku menangis karena kecewa, status hukumnya hingga ajal menjeput tak kunjung jelas. Mengapa pemerintah ‘kalah’ dengan kondisi seperti ini?
Aku menangis karena… right or wrong, he was my president.
Aku tak menyalahkan orang yang (tetap) menggugat, mendemo, dan mengutuk eyang kakung. Tapi aku juga merasa mereka tidak etis dan terlalu berlebihan. Orangnya udah meninggal, mau diapakan lagi? Capek2 marah, yang diteriakin juga udah gak bakalan dengar.
Aku tak pula menyalahkan orang yang membela eyang kakung. Ada yang membela dengan tulus, ada yang membela karena memang bermental “yes men / yes women” dari dulu. Aku tak peduli. Yang susah senang bukan aku kok.
Kalau negara lain bisa memuji eyang kakung di saat wafatnya, kenapa negara sendiri malah mengutuknya? Contohnya mantan ‘diktator’ Malaysia, Mahatir Mohamad, yang memuji eyang kakung berjasa untuk mendamaikan konfrontasi Indonesia-Malaysia. Negara lain pun bukan tidak tau dosa-dosa beliau, tetapi karena alasan politik (mungkin) atau alasan personal, mereka tetap menghormati eyang kakung.
Ada yang lucu. Saat eyang kakung menjadi orang nomer satu di Indonesia selama 32 tahun, apa iya ada yang protes langsung di hadapan beliau tentang beberapa kebijakan nyelenehnya? Pastinya cuman “inggih..inggih…” gak keruan! Ketika beliau lengser, semua berbalik menghujat, mencaci, dan cuci tangan. Ngaku!!!
Makanya tidak adil, sungguh tidak adil, membebani seluruh dosa orde baru pada pundak eyang kakung. Mengapa tak ada yang berani ‘melawan’ beliau ketika kebijakannya dinilai tak cocok dengan kondisi saat itu (misalnya)?
Ah, sudahlah. Orangnya sudah wafat. Segera tutup saja kasusnya. Bukan melupakannya. Bereskan segera, jangan bertele2. Tak seharusnya rakyat (para korban / keluarga korban kedigdayaan eyang kakung) terus menerus menyalahkan beliau. Yang harus disalahkan adalah pemerintah yang tidak konsisten dan tidak tegas dalam mengusut dan menyelesaikan kasusnya. Sifat2 kompeni sudah terlalu mendarah daging, rupanya…